Bagian Akhir

Indonesian
(Ayub 31, 38-42)
Year: 
2016
Quarter: 
4
Lesson Number: 
1

Pendahuluan: Bagian Akhir? Mengapa Anda memulai pelajaran baru dari buku Ayub dan pelajaran pertamanya, “Bagian Akhir?” Tanyakan istri saya. Ketika membaca buku, ia memulai dengan membaca akhir buku. Saya tidak pernah melakukannya, tetapi istri saya ingin tahu bagaimana akhirnya karena itu memberi dia kenyamanan saat membaca buku. Mengikuti tradisi istri saya, mari selami pelajaran tentang Ayub dengan melihat bagian akhirnya!

  1. Pandangan Ayub tentang Dirinya dan Keadilan

    1. Karena kita mulai di bagian akhir, ijinkan saya memberi ringkasan Buku Ayub. Ayub adalah seorang baik yang diberkati Allah. Tetapi, dalam serentetan kemalangan, ia kehilangan segalanya, termasuk kesehatannya. Pertanyaan besar dalam buku itu adalah “Mengapa?”

    2. Baca Ayub 31:1. Disini Ayub berbicara. Apa dikatakan tentang kemurnian seksualnya? (Ia tidak mau memandang wanita dengan nafsu.)

    3. Baca Ayub 31:2-3. Apakah hasil dari kemurnian ini? (Allah seharusnya membinasakan yang jahat, tidak yang baik. Bagaimana mungkin hal buruk terjadi padaku, tanya Ayub, kalau Allah perduli?)

      1. Ketika Ayub berbicara tentang “bagian manusia yang ditentukan Allah dari atas” dan “milik pusaka,” apa yang ia katakan tentang kewajiban Allah? (Pemberian dari Allah kepada manusia adalah mereka yang melakukan kesalahan akan menderita.)

        1. Bagaimanakah itu suatu pemberian, milik pusaka? (Kalau Anda menghindar dari kesalahan, hal buruk tidak akan terjadi pada Anda – itulah pemberian.)
    4. Baca Ayub 31:5-6. Kebaikan lain apa yang dituntut Ayub? (Ia jujur.)

    5. Baca Ayub 31:9-11. Apa yang Ayub katakan tentang perilakunya selain tidak menginginkan wanita lain? (Ia juga tidak tidur dengan mereka.)

    6. Baca Ayub 31:13-15. Apa sikap Ayub terhadap orang gajiannya? (Ia memperlakukan mereka dengan adil karena ia tahu kalau dia dan orang gajiannya sama-sama bertanggung jawab pada Allah.)

    7. Baca Ayub 31:16-18. Bagaimanakah memperlakukan yang miskin dan tidak berdaya? (Ia memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri.)

    8. Baca Ayub 31:24-28. Ayub seorang yang sangat kaya. Apakah sikapnya terhadap uang?

      1. Bagaimanakah sikapnya terhadap matahari dan bulan? (Ayub menegaskan kalau ia tidak bergantung pada kekayaan atau pada dunia. Ia bergantung pada Allah.)
  1. Baca Ayub 31:29-30. Bagaimanakah sikap Ayub terhadap musuh-musuhnya? (Ia tidak bersukacita ketika mereka jatuh, dan ia tidak mengutuki mereka.)

J. Seandainya Ayub menceritakan hal sesungguhnya, apa dinyatakan disini tentang dirinya? (Dalam hal kemurnian, kejujuran, belas kasihan, dan percaya kepada Allah, ia adalah seorang yang setia.)

  1. Ayub Menuntut Keadilan

A. Baca Ayub 31:35-37. “Mendengar,” “menjawab,” “tuduhan” – semua ini adalah istilah hukum. Apa yang dikatakan Ayub? (Ia mau seseorang menjadi hakim antara dia dan Allah. Ayub katakan, “Aku siap menanggung akibat perbuatanku.” Aku mau seseorang yang lebih besar dari Allah untuk menghakimi apakah aku setia atau tidak.”)

  1. Mengapa Ayub mau menuntut Allah? (Baca kembali Ayub 31:2-3. Orang jahat seharusnya menderita, bukan orang baik. Ayub katakan “Saya mengerti aturan dari sistim, saya telah melakukan yang benar. Allah telah memperlakukan saya dengan tidak adil, Allah tidak melakukan aturanNya sendiri. Saya mau membuktikan kalau saya telah menurut.”)

  2. Baca Ulangan 28:1-2 dan Ulangan 28:15. Apakah Ayub salah tentang sistim Allah? (Tidak. Ayub mengerti bagaimana sistim Allah bekerja.)

  1. Baca Ayub 32:1. Apakah kita keliru dengan apa yang Ayub perdebatkan? (Tidak. Ketiga orang itu mengerti kalau Ayub mengatakan ia benar dan apa yang menimpa dia adalah tidak adil.)

III. Tanggapan Allah Terhadap Ayub

  1. Baca Ayub 38:1. Gambaran mental apa yang harus kita miliki ketika membaca kalau Allah menjawab “melalui badai?” (Allah datang dengan kuasa dan kekuatan.)

  2. Baca Ayub 38:2-3. Apakah Allah memberikan Ayub kesempatan pemeriksaan pengadilan? (Ya, sepertinya. Allah katakan kalau Ia akan menanyai Ayub dan Ayub harus menjawab.)

    1. Apa yang Allah maksudkan ketika Ia katakan “menggelapkan nasehatKu dengan kata-kata tanpa pengetahuan?” (Ia maksudkan kalau Ayub tidak mengetahui semua informasi yang bersangkutan. Ayub pikir kalau tingkah lakunya dan perintah Allah yang berlaku dan berhubungan, tetapi Allah katakan Ayub tidak mengetahui beberapa informasi penting.)
  3. Baca Ayub 38:4-7. Apakah tujuan Allah dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Ayub? (Allah menciptakan bumi dan Ayub tidak.)

  4. Baca Ayub 38:16-18. Apakah maksud Allah dengan pertanyaan-pertanyaan ini? (Kalau Ayub tidak mengetahui terlalu banyak tentang dunianya sendiri. Allah memahami dunia luar dan dalam.)

  5. Baca Ayub 38:19-21. Apakah maksud Allah dengan pertanyaan-pertanyaan ini? (Ayub tidak tahu tentang matahari atau bulan atau perputaran galaksi. Pengetahuannya terbatas karena usianya terlalu pendek.)

  6. Baca Ayub 39:26-28. Apakah maksud Allah dengan pertanyaan-pertanyaan ini? (Ayub tidak dapat terbang, apalagi mendisain burung untuk terbang.)

  7. Baca Ayub 40:1-2. Apakah Allah memberikan Ayub kesempatan? (Ya! Allah menuntut jawaban dari Ayub – kalau ia cukup berani memberi jawaban.)

IV. Tanggapan Ayub

  1. Baca Ayub 40:3-4. Jawaban seperti apakah ini? (Ayub mengakui kalau dia tidak pantas menyeret Allah ke pengadilan dan menuntut Allah untuk memberi penjelasan.)

  2. Baca Ayub 40:5. Apakah Ayub mengakui kekalahan atas “tuntutan hukum” terhadap Allah? (Ia katakan ia “tidak akan berkata lagi”. Jawabnya “ya,” ia mengaku ia salah.)

  1. Sanggahan Allah

    1. Baca Ayub 40:6-8. Ini adalah pertanyaan yang sangat berbeda. Apakah kepentingan Allah terhadap keluhan Ayub dan permintaann untuk didengar? (Kalau ia tidak mempercayai keadilan Allah.)

      1. Perhatikan pertanyaan ini, “Apakah engkau menuduh saya untuk membenarkan dirmu?” Berapa banyak orang menyalahkan Allah ketika dengan nyata (bahkan kepada Anda) kalau mereka bertanggung jawab atas permasalahan mereka?

      2. Tunggu dulu! Kalau Ayub benar (dan ia benar), bagaimana jawaban Allah itu pantas? Bagaimana dengan Ulangan 28 yang mengatakan tingkah laku membawa akibat?

    1. Baca Ayub 40:15-19. Hewan apakah yang diceritakan disini? (Itu kelihatannya seperti gambaran dinosaurus.)

      1. Apa yang Allah katakan tentang dinosaurus? (Ia menciptakannya dan Ia dapat membunuhnya.)

        1. Apakah kesimpulannya karena Allah menciptakan Ayub, Ia dapat membunuhnya juga?

C. Kita akan melompati sisa dari fasal ini dan fasal berikutnya, karena merupakan serangkaian pernyataan senada yang menunjukkan kuasa Allah yang mutlak atas ciptaan.

VI. Ayub Menyerah

  1. Baca Ayub 42:1-3. Apa yang Ayub akui tentang seberapa besar pengetahuannya akan Allah dan ciptaanNya? (Ia bodoh. Ia tidak mengerti.)

  2. Baca Ayub 42:4-6. Ayub mencantumkan semua perbuatan baiknya. Untuk apa ia mencabut perkataannya? Mengapa ia menyesali dirinya? (Ayub tidak percaya Allah ketika Ayub memiliki pengetahuan yang tidak sempurna.)

    1. Itukah yang seharusnya paling kita perdulikan, apakah kita percaya Allah?
  3. Ketika kita mempelajari Buku Ayub, kita akan menemukan keterangan yang sangat jelas mengapa begitu besar penderitaan Ayub. Allah tidak pernah memberikan Ayub penjelasan itu. Gantinya, Allah hanya katakan apa yang baru saja kita pelajari. Mengapa? Mengapa tidak katakan pada Ayub apa yang terjadi? (Apa yang nyata pada kita adalah Allah katakan pada Ayub, “Aku Allah dan engkau bukan. Duduk, berdiam dan percaya Aku. Aku memiliiki pengetahuan, pengertian dan kuasa mutlak. Tugasmu adalah percaya Aku.)

    1. Apakah itu jawaban yang memuaskan Anda ketika datang kesusahan?
  4. Baca Ayub 42:10-16. Bagaimana akhir hidup Ayub? (Ia seorang yang kaya, diberkati, memiliki keluarga baru yang baik, dan ia hidup melihat cucu dan cicitnya. Ia mati di usia tua.)

  5. Minggu depan kita akan melihat, Allah membukakan tirai bagi kita untuk menunjukkan tepatnya mengapa Ayub menderita. Mengapa Allah mengatakan pada kita, tetapi tidak menjelaskan pada Ayub? (Allah mau kita, seperti Ayub, percaya sepenuhnya pada Dia ketika kesusahan datang. Tetapi, Allah mau menunjukkan kalau keputusanNya masuk diakal.)

  6. Sahabat, maukah Anda mempercayai Allah?

VII. Minggu depan: Pertentangan Besar.