Dari Dalam Badai

Indonesian
(Ayub 38-42)
Year: 
2016
Quarter: 
4
Lesson Number: 
11

I.            Tuntutan Allah

 

A.   Baca Ayub 38:1-3. Kabar baik apakah yang terdapat dalam berita dari Allah ini? (Kedengarannya Ayub akan memperoleh pemeriksaan yang dimintanya.)

 

1.   Allah berkata bahwa Ayub “menggelapkan” keputusan yang diterima Allah dengan “perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan.” Saya kira kita telah menetapkan bahwa Ayub benar dalam mengatakan bahwa ia seorang budiman. Oleh sebab Allah pasti benar, apakah yang sedang dibicarakan Allah disini? (bahwa Ayub tidak mengetahui kisah sepenuhnya.)

 

2.   Bagaimana Ayub “menggelapkan” percakapan itu? (Terang diungkapkan dan kegelapan ditutupi. Ayub membawa kesalahpahaman ke meja, maka pandangannya membingungkan (menggelapkan) fakta-fakta.)

 

3.   Allah menjawab “dari dalam badai.” Utarakanlah bagaimana menurut saudara situasi ini dirasakan oleh Ayub? (Kenang kembali bagaimana angin ribut roboh menimpa anak-anaknya sehingga mereka mati. Ayub 1:18-19.)

 

B.   Baca Ayub 38:4-7 dan Ayub 39:19-20. Apakah jawaban atas pertanyaan Allah? (Tidak. Ayub tidak menciptakan bumi ataupun binatang-binatang.)

 

1.   Saya menarik beberapa contoh pertanyaan dari pasal 38 dan 39. Sisa dari pertanyaan Allah ada pada baris yang sama. Jika saudara adalah pengacara Ayub, dan ini merupakan pemeriksaaan yang benar terjadi, apakah yang akan saudara katakan? (Saya akan menyanggah atas dasar relevansinya. Pemeriksaan yang diminta Ayub adalah untuk menyampaikan agar tuntutan atas dirinya diumumkan dan ia memperoleh jawaban. (Pertanyaan-pertanyaan ini berhubungan dengan kompetensi Ayub dalam hidupnya.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.   Baca Ayub 40:1-2. Jika saudara adalah pengacara Allah, bagaimanakah saudara akan merespons terhadap sanggahan yang menyangkut relevansi? Apakah yang kita dapati tentang pertanyaan atas respons Allah? (Tuntutan Ayub untuk adanya pemeriksaan memiliki asumsi yang salah. Asumsinya adalah bahwa Allah memiliki obligasi legal untuk menjawab pertanyaan Ayub. Pertanyaan balik dari Allah menantang asumsi ini. Siapakah Ayub untuk menanyai Allah? Bagaimana mungkin seorang manusia memiliki kompetensi untuk menantang Yang Maha Kuasa? “Dapatkah seorang yang bertentangan dengan Allah mengkoreksiNya?”)

 

II.          Jawaban Ayub atas Pemeriksaan kembali oleh Allah.

 

A.   Baca Ayub 40:3-5. Bagaimana pendapat saudara tentang jawaban Ayub? Ia telah meminta agar ia dapat dihadapkan atas tuntutan terhadap dirinya. Bagaimana hal ini dapat cocok dengan posisi Ayub sebelumnya? (Ayub telah menarik permintaannya untuk pemeriksaan. Ia sadar bahwa ia tidak layak untuk meminta perhitungan dari Allah.)

 

1.   Apakah ini pelajaran bagi kita sekarang? Dikala kita tergoda untuk mengatakan bahwa Allah tidaklah adil dan benar, perlukah kita menutup mulut kita dengan kedua tangan kita dan berdiam diri?

 

a.    Masa Kejadian dari Penciptaan dan Kejatuhan manusia menunjukkan bahwa Allah memberikan manusia kebebasan untuk memilih. Kita dapat menolak Allah. Apakah kebebasan memilih yang diberikan Allah itu konsisten dengan gagasan bahwa ketika tampaknya Allah mengecewakan kita, bahwa kita perlu menutup mulut kita dan berdiam diri saja?

 

B.   Baca Ayub 40:8. Pernahkah saudara mendengar hal ini sebelumnya? (Baca Ayub 8:1-3, Ayub 34:5 dan Ayub 34:12. Jika para sahabat Ayub mendengar pemeriksaan-ulang Allah, mereka kemungkinan berteriak, “Allah Teruskanlah! Inilah yang sebenarnya telah kami katakan kepada Ayub.”)

 

C.   Baca Ayub 40:11-14. Saya hendak berfokus pada ayat 14. Ketika kita berdosa, siapakah yang kita buat tersinggung? (dalam Mazmur 51: 3-4 Daud berkata “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah, aku telah berdosa.” Kita dapat melukai orang lain karena dosa kita, namun dosa hanyalah terhadap Allah saja.)

 

1.   Ketika Allah berkata dalam Ayub 40:11-14 bahwa Ia dapat menghancurkan orang yang fasik dan congkak, adalah masuk akal kala Ia akan melakukan ini atas dosa kita kepadaNya. Pelajaran apakah yang terdapat pada Ayub 40:14? Dibenarkah oleh iman. Seperti Ayub, kita tidak dapat menghadap Allah. “Tangan kanan” kita tidak dapat menyelamatkan kita. Harapan kita hanyalah atas apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.   Baca Ayub 41:11. Apakah jawaban Allah atas pandangan bahwa Allah memiliki semacam obligasi terhadap manusia?

 

1.   Sejauh ini argumentasi Allah adalah atas kuasa dan otoritas. Jelaslah, bahwa Allah memilikinya. Perlukah kuasa menjawab atas ketidakadilan? Klaim Ayub adalah bahwa ia menderita dalam ketidakadilan.

 

III.        Kesimpulan Ayub

 

A.   Baca Ayub 42:1-3. Dugaan saya bahwa hampir semua orang menjawab pertanyaan sebelumnya dengan jawaban “Ya, kuasa seharusnya menjawab ketidakadilan.” Jawaban apakah yang akan Ayub berikan sekarang? (Sama seperti bagaimana pada umumnya pekerjaan benar membawa berkat dan pekerjaan salah membawa pada masalah, maka secara umum adalah benar bahwa kuasa dan otoritas haruslah adil adanya. Namun, pada situasi tertentu, Ayub berkata “Saya tidak mengerti.” Bagaimana kita memanggil Allah untuk membuat perhitungan jika kita tidak mengetahui seluruh faktanya?)

 

B.   Baca Ayub 42:4-6. Apa yang menyebabkan Ayub berkata. “Saya merendahkan diri saya dan bertobat dalam debu dan abu?” (Ayub berhadapan dengan Allah Semesta.)

 

1.   Apakah Allah harus menjawab sesuai standar kita? (Tidak. Allah mengatakan bahwa Ia menciptakan segalanya. Ia bukan seperti manusia yang mempunyai kuasa dan otoritas. Ia secara harafiah adalah Pencipta segalnya. Ia tidak memiliki kewajiban terhadap manusia. Ia tidak perlu menjelaskan diriNya.)

 

2.   Jika saudara setuju bahwa Allah tidak perlu menjelaskan diriNya pada kita, bagaimana saudara memperhitungkan Ayub 1 & 2? Mengapa Allah mengungkapkan kepada kita keseluruhan kisahnya? (Karena ia mengasihi kita. Karena kasihnya pada kita, Ia ingin kita puas dengan semua keputusanNya. Ia tidak memiliki kewajiban terhadap kita, namun oleh kasihNya ia memberikan penjelasan pada kita.)

 

IV.         Para Sahabat

 

A.   Baca kembali Ayub 42:6. Menurut saudara, pada titik ini apa yang tengah dipikirkan oleh para sahabat Ayub? (Tidak dapat diragukan bahwa mereka merasa dibenarkan oleh apa yang Allah katakan. Ternyata mereka benar, dan sekarang Ayub telah bertobat.)

 

B.   Baca Ayub 42:7-8. Tidakkah ini suatu putaran balik! Sekarang, siapa yang benar? (Allah mengatakan bahwa para sahabat “kamu tidak berkata benar tentang Aku, seperti hambaku Ayub.” Maka, Ayub lebih dekat pada kebenaran dibanding para sahabatnya.) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.   Bagaimana hal ini adalah benar karena pertobatan Ayub (Ayub 42:6)? Lebih buruk lagi, dalam pelajaran kita Allah memulai dengan mangakatan Ayub “menggelapkan” nasehat Allah “dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan.” Bagaimana saudara menjelaskan hal ini? (Ada dua hal. Yang pertama, Ayub sedang dalam tekanan dan hal ini menyebabkan orang mengatakan hal yang tidak akan dikatakan dalam keadaan biasa. Para sahabatnya tidak dalam tekanan dan mereka tidak bermurah hati. Hal kedua, Ayub benar dalam hal ia seorang budiman yang tidak layak atas hal yang terjadi pada dirinya. Meski apa yang dikatakan para sahabat adalah benar, aturan umum tidak selalu berlaku. Mereka salah mewakili Allah ketika mereka mengasumsikan bahwa kesusahan dalam hidup secara langsung merefleksikan ketidakpatuhan kepada Allah.)

 

C.   Baca Ibrani 11:35-38. Jika saudara membaca konteks dari ayat-yat ini, saudara dapat melihat bagaimana sebagian pahlawan iman mengalami penderitaan yang mengerikan. Dalam hal apakah mereka sama dengan Ayub? Bagaimana hal ini akan mempengaruhi cara kita memandang aturan umum ini?

 

D.   Baca kembali Ayub 42:7. Berapa sahabat yang ditujukan Allah? (Elifas dan kedua sahabatnya, Bildad dan Zofar.)

 

1.   Berapa sahabat yang berargumentasi dengan Ayub? (Baca Ayub 2:11 dan Ayub 32:1-4. Tambahan terhadap ketiga sahabat karibnya, kita menggunakan seluruh pelajaran sebelumnya untuk melihat argumentasi penuh kemarahan Elihu terhadap Ayub.)

 

E.   Mengapa Allah tidak menghukum Elihu atau menyuruhnya untuk meminta Ayub mendoakannya? (Ketika kita mempelajari pernyataan Elihu minggu lalu, kita melihat bahwa sebagian mereka adalah sama dengan ketiga sahabat lamanya. Namun, sebagian tidak sama. Contohnya, dalam Ayub 32:8-9 dan Ayub 32:18-19 Elihu mengklaim bahwa Roh Kudus sedang berbicara melalui dia. Pada minggu lalu kita tidak membaca seluruh pernyataan Elihu, namun di Ayub 36:22-23 Elihu beragumen bahwa manusia tidaklah dalam posisi untuk menuntut Allah atas kesalahannya. Jika saudara membaca sepintas dalam Ayub 36:26-37:24, saudara dapat melihat bagaimana Elihu menyampaikan argumen yang sama “Allah adalah Allah dan engkau bukan” yang Allah sampaikan pada pasal berikutnya. Pada poin penting Elihu berantisipai atas apa yang akan Allah sampaikan, dan saya berpikir hal ini yang membuatnya tidak dihukum.

 

F.    Sahabatku, menurut saya pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa kita perlu lambat untuk menyalahkan orang lain ketika menggunakan logika sendiri, gantinya mengadakan observasi atas dosa sebenarnya. Elihu mengajarkan kita bahwa jalan sempurna untuk membenarkan karakter Allah adalah untuk berfokus akan kemuliaanNya, gantinya berfokus kepada sifat dosa manusia. Maukah saudara mempertimbangkan kembali cara bertindak saudara terhadap dosa nyata dalam kehidupan orang lain?

 

V.           Minggu depan: Penebus Ayub.