Kepemimpinan yang Melayani

Indonesian
1 Petrus 5:1-10
Year: 
2017
Quarter: 
2
Lesson Number: 
7

Pendahuluan: Pada saat pertama kali saya pindah dari rumah, saya menghadiri sebuah gereja yang kelihatannya sempurna. Semua terlihat indah! Saya menyukai anggota gerejanya. Saya menyukai pendetanya. Tidak terlihat adanya kelompok-kelompok di sana. Satu tahun kemudian setelah saya menikah, istri saya mengajar di sekolah yang berhubungan dengan gereja ini. Setelah melihat permasalahan “di dalam” organisasi gereja, baru saya berkesimpulan ternyata tidaklah semua keadaan damai, tentram dan bersatu. Petrus juga telah memberikan nasihat kita tentang berbagai perhubungan, dan pada minggu ini kita akan mempelajari arahannya atas perhubungan antara gereja dan para pimpinannya. Mari kita memasuki pelajaran Alkitab kita untuk memperoleh lebih banyak pelajaran mengenai topic kita minggu ini.

 

  1. Para Penatua

 

  1. Baca 1 Petrus 5:1.  Pada saat Petrus menulis mengenai “para penatua” adakah ia membicarakan mereka yang menjadi pegawai siding ataukah mereka yang dituakan oleh gereja? (Baca 1 Petrus 5:5. Selama ini saya berasumsi bahwa Petrus membicarakan mengenai kantor di dalam gereja, namun ketika saya perhatikan lebih mendalam kelihatannya Petrus berbicara mengenai orang yang dituakan di gereja.)

 

  1. Baca 1 Petrus 5:2. Permintaan apakah yang disampaikan Petrus kepada para penatua? (Agara mereka menjadi “gembala atas domba-domba Allah. Jelaslah ini sebuah referensi untuk mereka yang memegang jawbatan atau posisi di dalam gereja.)

 

  1. Pikirkanlah hal ini. Adakah logis untuk menghubungkan orang yang dituakan dengan mereka yang memegang posisi di gereja? Baca kembali 1 Petrus 5:1 untuk mendapatkan masukan atas hal ini. (Petrus mengatakan bahwa mereka yang dituakan merupakan saksi nyata atas penderitaan Yesus. Gagasannya adalah bahwa orang yang dituakan mengetahui lebih banyak, lebih berpengalaman, dan tentunya adalah wajar untuk menjadikan mereka penatua – gembala-gembala.)

 

  1. Dalam komentar yang saya baca dijelaskan bahwa kata “penatua” berarti seorang yang tua, namun mereka juga menganggap sebagai orang yang memegang posisi tinggi dalam gereja. Mengapa? Karena adanya hubungan antara umur dan posisi dalam kantor-kantor. Pada Kitab perjanjian bergambar oleh Robertson dikatakan pada mula-mula kata “penatua”, digunakan oleh pimpinan-pimpinan kota – “alderman”. Apakah menurut saudara hal ini ada hubungannya juga dalam gereja modern?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mari kita kembali ke ayat di dalam 1 Petrus 5:1. Mengapa Petrus menulis, “jangan karena paksa, melainkan karena sukarela?” (Pernyataan ini meyakinkan saya bahwa Petrus hanya berbicara mengenai umur, dan bukan pekerjaan di kantor. Adalah masuk akal baginya menulis bahwa penatua semestinya melayani sebagai “pengawas”, bukan karena keharusan, namun karena mereka rela melakukannya.)

 

  1. Secara umum, orang bertambah bijak sesuai dengan umur. Permasalahannya adalah saya mengenal “orang dungu” yang tiak berubah sesuai usia mereka. Apakah umur merupakan faktor utama untuk dipertimbangkan? (Mari kita terus membaca, karena kelihatannya Petrus menjawab pertanyaan ini.)

 

  1. Baca 1 Petrus 5:2-3. Kita telah membahas bagaimana orang yang lebih tua telah menyaksikan sejarah penting dan seharusnya telah menimba banyak hikmah. Persyaratan kerja apa lagikah yang Petrs tempatkan bagi para penatua sebelum mereka memiliki kualifikasi untuk memegang jabatan sebagai “pengawas?” (Mereka harus berhasrat untuk melayani. Mereka tidak boleh melakukannya demi uang. Mereka tidak semestinya “bertindak sebagai tuan” atas gembalaannya. Mereka harus menjadi contoh yang baik.)

 

  1. Saya pernah menjadi “Penatua” di berbagai gereja dimana saya menjadi anggota semasa kehidupan dewasa saya. Tidak pernah ada yang memberikan saya uang. Apakah ini masalah dalam gereja saudara?

 

  1. Jika uang menjadi masalah, apakah ada masalah paralel yang tidak menyangkut uang? Apakah ada dari Penatua itu yang mendapat manfaat secara pribadi karena memegang posisi kepemimpinan?

 

  1. Baca kembali 1 Petrus 5:3. Apakah “memerintah atas” orang lain membawa keuntungan pribadi? (Petrus menggambarkan sebuah karakter yang harus didiskualifikasikan sebagai pengawas. Saudara seharusnya tidak melakukan tugas itu karena dapat meraih keuntungan pribadi, apakah dalam keuangan, maupun menyangkut ego, atau juga otoritas. Petrus memperbolehkan Penatua-penatua untuk mendapatkan gaji, dan menikmati semacam kebanggaan dan otoritas yang datang dengannya. Namun, ia menuliskan bahwa saudara seharusnya melakukan tugas ini untuk menjadi manfaat bagi orang lain, dan bukan karena saudara “rakus” untuk memberi makan kesombongan atau gila kuasa saudara.)

 

  1. Jika saudara pernah menjadai Penatua, apakah saudara pernah merasakan kepuasaan daripadanya? (Menolong orang lain memberikan kesenangan besar jika mereka bereaksi secara positif. Inilah salah satu berkat dari memegang posisi ini.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Seiring dengan berjalannya waktu saya melihat pola yang kelihatannya alami namun sebenarnya mengkhawatirkan. Anggota-anggota gereja yang jenis pekerjaannya tidak mengupahkan mereka dengan posisi kepemimpinan, menemukan bahwa gereja dapat memenuhi kebutuhan ini. Letak permasalahannya adalah bahwa bagi para pemimpin ini adalah bahwa kehilangan posisi di gereja membuat mereka seolah kehilangan pekerjaan – dan hasilnya membuat orang ini menjadi bermasalah di gereja. Apakah ini situasi yang sulit dihindari?

 

  1. Ada waktunya dimana saya mengkhawatirkan motif saya. Apakah saya mengajar, berkhotbah dan memimpin karena saya suka tampil di muka, ataukah karena saya ingin membawa kemuliaan bagi Allah? Jika saudara menjadi pemimpin, sudahkah saudara memikirkan isu ini? (Dr Wiliam Shea, salah satu ahli teologi di sekte agama saya, adalah merupakan anggota gereja local saya. Ia adalah contoh luar biasa dari seorang orang suci yang rendah hati. Suatu hari ia saya bertanya padanya, “Bill, ketika saudara mengajar atau berkhotbah, apakah sebagian itu karena saudara suka tampil di depan? Ia berkata, “Tentu, ini merupakan sebagian daripadanya.”  Fakta dimana orang rendah hati ini menghargai pekerjaannya karena alasan di atas akhirnya dapat menenangkan saya. Tujuan kita adalah untuk memajukan Kerajaan Allah. Namun untuk dapat menikmati kehormatan yang datang dari pekerjaan ini bukanlah merupakan dosa. Yohanes 12:26)

 

  1. Baca 1 Petrus 5:4. Apakah upah utama dari tugas pengawas? (Kerajaan surge! “Memiliki mahkota kemuliaan.” Jika alasan saudara menjadi pemimpin adalah mendapatkan kemuliaan disini, maka saudara telah mendapatkan secara penuh disini.)

 

  1. Orang Muda

 

  1. Baca 1 Petrus 5:5. Menurut saudara mengapa adalah penting bagi Petrus menuliskan ayat ini? (Orang muda tidak selalu menyadari bahwa pengalaman itu adalah penting.)

 

  1. Secara keseluruhan sikap sesuai yang diperintahkan oleh Petrus? (Bahwa kita semua, baik tua ataupun muda, seharusnya bertindak dalam kerendahatian satu sama lain.)

 

  1. Apakah upah dari kerendahatian bersama ini? (Jika saudara sombong, Allah akan menolak saudara. Jika saudara rendah hati, Allah akan memberi saudara rahmat.)

 

 

  1. Baca 1 Petrus 5:6. Kapankah “pada waktunya” Allah akan mengangkat kita? (Orang muda akan menjadi tua! Ini adalah tujuannya. Ini merupakan penunjang yang kita pelajari pada awal pelajaran, yaitu bahwa Allah ingin menghormati kita.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Baca 1 Petrus 5:7. Apakah hubungannya rasa khawatir dengan kerendahatian, dan menerima tuntunan para penatua? (Tanyakanlah diri saudara seberapa besarkah kekhawatiran saudara dan ketakutan untuk kehilangan muka? Dapatkah kehilangan sesuatu membuat saudara merasa penting? Rendah hati adalah tameng atas kekhawatian.)

 

  1. Setan vs Allah

 

  1. Baca 1 Petrus 5:8. Apakah saudara memiliki peran agar tidak “ditelan” oleh Setan? (Ya. Selalu “awas dan menahan diri.”

 

  1. Menurut saudara, dalam praktek, apakah artinya untuk tidak “ditelan” Setan?

 

  1. Baca 1 Petrus 5:9. Melawan Setan, dari permukaan, terlihat bukanlah sebuah gagasan yang baik. Lihat apa yang telah dilakukannya dengan Ayub. Menurut saudara, apakah maksud Petrus mengatakan aar kita “menolak” Setan? (Kuncinya terletak pada kalimat, “berdiri teguh dalam iman.” Bahwa kita menaruh percaya pada Allah. Kita menaruh iman pada Allah. Pertentangan adalah antara Allah dan Setan, kita bukan berdiri sendiri melawan Setan.)

 

  1. Mengapa adalah penting untuk mengetahui bahwa orang Kristen lain juga menderita. (bahwa hal itu memberi penghiburan bahwa saudara bukanlah sendiri.)

 

  1. Mengapa saudara menyebut “penderitaan” dalam konteks menolak Setan dan menjauhi dia agar tidak ditelannya? (Konteks ini sangatlah penting. Pertentangannya adalah atas pencobaan dan penderitaan. Setan membawa kesusahan dalam hidup kita, dan berdiri teguh dalam iman kepada Allah merupakan jawaban atas serangan ini.)

 

  1. Apakah diskusi yang panjang mengenai kerendahatian memiliki aplikasi disini? (Jika kita sombong, lebih kecil kemungkinannya untuk kita langsung berpaling kepada Allah untuk meminta pertolongan.)

 

  1. Baca 1 Petrus 5:10. Disatu sisi kita memiliki Setan yang siap untuk “menelan” kita, siapakah yang kita miliki di sisi lainnya? (Allah!)

 

  1. Apakah sikap Allah terhadap kita?(Kasih karunia! Ia adalah “Allah atas rahmat.”)

 

  1. Apakah rencana Allah bagi kita? (Untuk mengembalikan kita dari luka apapun yang telah disebabkan Setan, dan membuat kita “kuat, teguh dan tabah.”)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Sahabatku, apakah saudara ingin menjadi “kuat, teguh dan tabah?” Pemahaman atas hubungan  yang benar antara saudara dengan pemerintahan, atasan, pasangan, penderitaan, sesama anggota gereja, dan konflik antara Allah dan Setan, dapat menempatkan saudara pada jalan Kristiani yang memiliki keyakinan kepada Allah. Mengapa tidak meminta pertolongan Allah, melalui kuasa dari Roh Kudus, untuk terus menjalani hubungan yang benar?

 

  1. Minggu depan: Yesus dalam Tulisan Petrus