Prioritas Janji

Indonesian
Galatia 3:15-20
Year: 
2017
Quarter: 
3
Lesson Number: 
6

Pendahuluan: dalam Kejadian 15:6 disebutkan “Abram percaya akan Allah, dan Allah memberi kredit atas akal budinya.” Paulus menerangkan bahwa inilah model yang ada di benak Allah untuk kita. Kita perlu menaruh percaya pada Allah. Jika kita melakukannya, itu sudah cukup untuk membuat hubungan kita benar dengan Allah. Itulah tiket kita menuju surga. Namun, apakah hal ini benar? Bagaimana dengan fakta bahwa Allah memberikan keSepuluh Hukum kepada umatNya melalui Musa? Bagaimana pula dengan fakta bahwa Yesus membuat penurutan menjadi sangat sulit dengan mengatakan bahwa dengan hanya melihat  dengan “nafsu” merupakan “hati” yang berzinah dan hanya dengan berbuat marah telah membuat saudara menjadi subyek yg dihakimi sama seperti seorang pembunuh dihakimi (Matius 5)? Jika hendak membicarakan standar yag lebih keras! Paulus membahas dampak dari hukum di dalam pelajaran minggu ini. Mari kita menyelam ke dalam pelajaran Alkitab kita untuk belajar lebih dalam!

 

  1. Sebuah Janji

 

    1. Baca Galatia 3:15. Menurut saudara apakah “perjanjian manusia?” (suatu perjanjian adalah sebuah kontrak, yaitu perjanjian antara (dua) atau lebih orang.

 

      1. Pikirkanlah kapan terakhir kalinya saudara menandatangani suatu kontrak. Apakah saudara berjanji akan berbuat sesuatu? Apakah pihak lainnya berjanji akan berbuat sesuatu? (Para pengacara menyebut janji-janji itu sebagai “pertimbangan.” Setiap pihak dalam kontrak berjanji akan berbuat sesuatu.

 

    1. Baca kembali Galatiab3:15. Menurut Paulus apakah yang tidak boleh dilakukan dalam menandatangani perjanjain? (Bahwa saudara harus mengikuti persyaratan yang ada di dalam kontrak itu. Saudara tidak boleh melakukan lebih sedikit atau meminta jauh lebih banyak dari apa yang telah disepakati.)

 

      1. Apakah ini merupakan pengalaman saudara juga? (Paulus sedang membahas perihal apa yang dapat dilakasanakan. Ia membahas apa yang ideal akan terjadi. Jika saudara telah memberikan kesepakatan saudara, maka kesepakatan itu harus ditepati. Jika saudara menuntut agar pihak lain melakukan detil tertentu, saudara tidak dapat mengharapkan mereka akan melakukan sesuatu melebihi kesepakatan itu.)

 

    1. Baca Galatia 3:16-17. Bagaimana caranya untuk mencocokkan keSepuluh Hukum ke dalam pembahasan kita mengenai perjanjian2 kontrak? Jika kesepakatan yang terjadi adalah bahwa Allah akan menganggap saudara orang baik budi jika saudara percaya padaNya, apakah reaksi yang akan saudara berikan jika keSepuluh Hukum itu ditambahkan? (Saya akan mengeluh tentang pelanggaran kesepakatan. Saya akan memprotes lebih keras jika Allah mengatakan pada saya bahwa perjanjian itu akan diberlakukan seketat-ketatnya! Saya akan berdebat bahwa Allah menyuruh saya melebihi kesepakatan yang telah ada.)

 

      1. Apakah maksud Paulus disini? (Bahwa Allah tak akan melakukan hal demikian. Karena hukum tidaklah diberikan sebagai bagian dari kontrak awal antara Allah dan manusia. Hukum diberikan untuk maksud lain. Maka kontrak aslilah yang berlaku.)

 

  1.  Sebuah Bibit

 

    1. Baca kembali Galatia 3:16 dan fokuskan kepada diskusi perihal “keturunan” dan “keturunan-keturunan.” Apakah Paulus bermaksud mengatakan bahwa perjanjian yang terjadi bukanlah antara Allah dan Abraham (dan keturunanya), namun merupakan perjanjian antara Allah, Abraham dan Yesus?
      1. Bagaimana Allah dapat membuat perjanjian antara diriNya? Atau Allah Bapa membuat kontrak dengan Allah Anak?

 

      1. Apakah ada keraguan bahwa “keturunan” yang dimaksud ialah Yesus? (Paulus secara spesifik mengatakan bahwa keturunan yang dimaksud ialah Kristus.)

 

    1. Baca kembali bagian awal Galatia 3:17. Apakah Paulus mengantisipasikan kemungkinan kita tidak memahaminya? (Ia berkata, ”yang Kumaksud adalah….” Saya tidak mengerti kontrak dengan Yesus tersebut, maka kita perlu melanjutkannya untuk mencari tahu apakah Paulus akan membuat klarifikasi sesudahnya.)

 

    1. Baca Galatia 3:18. Sekarang Paulus memperkenalkan suatu istilah hukum lainnya, “warisan.” Apakah hubungannya dengan pembahasan kita? (Seseorang dapat mewarisi hak kontraktual. Katakanlah ayah saudara membuat perjanjian untuk menyewakan sebuah tanah kepada seseorang selama sepuluh tahun sejumlah $10,000 per tahun. Jika ayah saudara meninggal, dan saudara mewarisi tanah tersebut, saudara akan mengambil tanah yang adalah subyek kontrak – yang berarti saudara dapat melanjutkan perjanjian yang ada dan menikmati keuntungan yang dalam perjanjian dengan pihak lainnya. Menurut saya Paulus mengatakan kepada kita bahwa kita mewarisi kepentingan Abraham dalam kontrak yang dibuat antara Allah dan Abraham.)

 

    1. Baca Galatia 3:19. Bagaimana hal ini dapat mengklarifikasikan kebingungan sebelumnya perihal keturunan? (Gantinya mengatakan “keturunan” adalah pewaris kontrak, disebutkan “keturunan” berhak atas kontrak. Hal ini sangat masuk akal bagi saya!)

 

  1. Hukum

 

    1. Mari kita melihat bagian dari Galatia 3:19 yang berbicara tentang “tujuan” dari hukum. Apakah tujuan dari hukum yang disebutkan dalam ayat tersebut? (Telah ditambahkan “oleh karena pelanggaran-pelanggaran,” dan memiliki waktu yang terbatas dalam penerapannya.)

 

      1. Jika Yesus menuruti hukum demi kita, dan kita tidaklah subyek terhadap penalti hukum, maka mengapa hukum diperlukan untik memenuhi kesenggangan sampai kedatangan Yesus? Apakah mereka memerlukan sesuatu? ( pikirkanlah secara garis besar. Apakah Allah menginginkan kita berbuat dosa? Sangat jelas tidak akan. Yesus datang dan memelihara hukum untuk menunjukkan bahwa Adampun akan memelihara hukum. Memelihara hukum adalah hal yang baik. Ketika Yesus datang, Ia bukan saja menunjukkan pada kita bagaimana cara hidup (menunjukkan kita “lebih dari hukum” adalah idealnya, sementara hanya memelihara hukum adalah tujuan yang terlalu rendah), Ia juga mengirimkan Roh Kudus agar kita dapat menghidupkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita perlu sebuah penuntun.)

 

    1. Baca Galatia 3:19-20. Saya mengikutsertakan ayat 19 karena saya ingin berfokus kepada referensi “perantara”. Menurut saudara siapakah perantara ini? Musa? (Baca 1 Timotius 2:5-6 dan Ibrani 9:15. Ayat2 tersebut secara jelas memanggil Yesus sebagai perantara kita – terutama karena ia mati dalam tempat kita.)

 

      1. Lihat kembali Galatia 3:19. Apakah Yesus menaruh hukum ke dalam “efek melalui malaikat-malaikatnya”? Bagaimana hukum sebagai bagian dari pengantara? (Baca Roma 5:10 dan 2 Korintus 5:17-19. Allah adalah suci dan manusia tidak. Umat Allah, ketika berada di tawanan Mesir, telah berangsur-angsur kehilangan pandangan akan tujuan Allah dalam hidup mereka. Untuk membantu mereka agar lebih sejalan dengan kehendak Allah, Ia memberi mereka hukumNya. Oleh karena itu, saya berpikir bahwa Musa adalah “pengantara” mula-mula. Namun, Yesus adalah pengantara sebenarnya ketika Ia hidup dan mati dan membayar penalti atas dosa kita.)

 

      1. Apakah maksud Paulus dalam menulis “Allah adalah satu?” Apakah hubungannya dengan Yesus sebagai “Perantara?” (seorang perantara tidak mewakili pihak manapun. Di dalam hukum Amerika yang kini, seorang perantara akan mencoba membawa ke dua belah pihak ke dalam perjanjian. Allah adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Ia adalah Satu dengan Allah. Maka, Yesus telah, dalam perihal sangat luar biasa, membawa kita bersama dengan Allah.)

 

    1. Baca kembali kalimat pertama dalam Galatia 3:19 dan baca kalimat pertama dalam Galatia 3:21. Kita akan mempelajari Galatia 3:21 minggu depan, namun saat ini saya ingin saudara memperhatikan dua pertanyaan yang dituliskan pada kedua ayat ini. Apakah kedua ayat itu bertanya kepada kita hal yang sama? (Ya. Jika kita dapat mengerti maksud dari hukum, maka kita dapat melihat apakah hal itu bertentangan dengan kontrak mula-mula antara Allah dan Abraham.)

 

      1. Dengan memikirkan tujuan keseluruhan Allah dalam kita, apakah hukum itu berkonflik terhadap kontrak itu?

 

      1. Apa yang Allah inginkan dilakukan Abraham? (MempercayaiNya!)

 

      1. Mengapa Allah menginginkan manusia untuk menaruh percaya padaNya? (Mereka akan hidup harmonis bersama Allah. Kita percaya bahwa jalan Allah dan kehendak Allah adalah hal terbaik bagi hidup kita.)

 

      1. Apakah yang hukum lakukan bagi kita? (Baca Roma 7:7. Hukum mengungkapkan kehendak Allah bagi kita. Apakah saudara mau menghidupkan kehidupan yang harmonis dengan kehendak Allah? Baca keSepuluh Hukum.)

 

      1. Bagaimana dengan komentar Yesus perihal nafsu dan kemarahan yang disamakan dengan masalah perzinahan dan pembunuhan? Apakah ini mengarah kepada membantu agar hubungan kitaa harmonis dengan Allah? (Baca Yakobus 1:13-15. Manusia tidak secara kebetulan terjatuh ke dalam perzinahan maupun pembunuhan. Hal ini bermula dari keinginan, sebuah rencana dalam pikiran, untuk melakukan hal-hal tersebut. Menurut saya apa yang dimaksud oleh Yesus jika saudara tidak melakikan tindakan perzinahan atau pembunuhan karena tidak ada kesempatannya, maka hidup saudara tidaklah sejalan dengan kehendak Allah. Jika saudara berencana untuk berbuat perzinahan maupun pembunuhan, maka hidup saudara tidaklah harmonis dengan kehendak Allah.)

 

    1. Dengan demikian, bagaimana seharusnya kita hidup? (Jika kita menerima hidup Yesus, kematian dan kebangkitan atas tempat kita, kita memiliki jaminan bahwa penalti dosa  tidak berlaku bagi kita. Kita diselamatkan. Pada saat yang sama,  ketika kita menjalankan kehidupan yang dituntun oleh Roh Kudus, kita menyadari bahwa keseluruhan inti dari apa yang disampaikan Yesus kepada kita  adalah agar kita hidup harmonis dengan Allah. Dengan bantuan Roh Kudus, kita memilih untuk mengarahkan pikiran kita dan hidup kita dalam arah yang  konsisten atas  perintah Allah yang diungkapkan. Kita melakukan ini karena percaya akan Allah. Kita tahu hal ini akan membuat hidup kita lebih baik, dan kita mengetahui bahwa ini akan membawa  kemuliaan bagi Allah.)

 

    1. Sahabat, maukah saudara menerima apa yang telah Yesus lakukan dalam tempat saudara? Maukah saudara menyetujui untuk percaya padaNya dalam segala yang saudara lakukan?

 

IV Minggu depan: Jalan menuju Iman