Jubah Baru si Anak Hilang

Indonesian
(Lukas 15)
Year: 
2011
Quarter: 
2
Lesson Number: 
10

Pendahuluan: Yesus berkata dalam Lukas 7:47 bahwa orang yang banyak diampuni, banyak berbuat kasih. Yang sedikit mengampuni, sedikit berbuat kasih. Apakah saudara senantiasi “baik” sepanjang umur saudara? Apakah saudara patuh pada orang tua, sekolah dan negara? Apakah saudara selalu datang ke gereja dulu dan sekarang? Jika saudara seperti yang saya gambarkan, maka akan sulit untuk menyebutkan kapan tepatnya saudara bertobat, bukan? Jika yang saya sebutkan tadi asing bagi saudara, apakah saudara selalu terjebak masalah? Jika saudara dulu “buruk”, namun sekarang sudah bergereja, tak sangsi lagi saudara pasti ingat pengalaman pertobatan saudara. Sekarang setelah kita semua tahu siapa kita sebenarnya, bagaimana kalau Allah mengisahkan sebuah cerita yang intinya bahwa orang baik tidak masuk Kerajaan Surga? Mari selami pelajaran Alkitab kita dan pelajari lebih lanjut!

 

  1. Latar Belakang
    1. Baca Lukas 15:1-2. Gambarkan para pendengar Yesus.
      1. Kelompok mana yang datang dengan sukarela dan kelompok mana yang datang dengan bersungut-sungut? (Tidak masalah bagi Yesus mendatangkan orang-orang yang jelas-jelas berdosa ke dalam pertemuan-Nya. Namun, kelompok orang "baik” memprotes hal tersebut.)
         
      2. Apakah orang-orang yang jelas-jelas berdosa berduyun-duyun datang ke gereja saudara tiap hari Sabat?
        1. Jika tidak, apakah cara engkau mengajar sama seperti cara Yesus mengajar?
           
        2. Timbang-timbang apakah saudara akan mengeluhkah orang-orang berdosa yang datang ke gereja?
           
    2. Baca cepat Lukas 15:3-10. Yesus menceritakan dua kisah tentang sesuatu yang hilang dan ditemukan. Kita paham bahwa ini merupakan perumpamaan Kerajaan Surga, cerita tentang orang-orang yang hilang dan sikap Allah dalam memberi hidup kekal kepada mereka.
       
  2. Anak Bungsu
    1. Baca Lukas 15:11-12. Renungkan ayat ini dari sudut pandang sang ayah. Apa yang diinginkan oleh anak yang bungsu? Apa yang ia tidak inginkan? (Ia inginkan uang saudara. Ia tidak menginginkan saudara. Ia ingin menganggap saudara sudah meninggal.)
      1. Para orang tua, bagaimana rasanya?
         
    2. Kira-kira apa bentuk kekayaan si ayah? (Ayat dalam Lukas menyebutkan “harta milik” dan “kekayaan”. Kata dalam bahasa Gerika yang diterjemahkan sebagai “kekayaan” adala “bios” atau kehidupan. Apabila seorang petani mengurangi sepertiga lahannya (anak bungsu memperoleh sepertiga bagian, lihat Ulangan 21:17), hidupnya, statusnya dalam masyarakan berkurang. Tanah tersebut adalah hidupnya.)
       
    3. Baca Lukas 15:13-16. Andai saudara bertemu dengan anak bungsu ini dan ia meminta pinjaman dari saudara, kira-kira apa yang akan ia kisahkan? Atas dasar apa dia kelak membayar hutangnya kepada saudara? (Adalah wajar jika ia menyalahkan bencana kelaparan yang hebat. Itu bukan “salahnya!” Ia akan mendapatkan kembali uangnya.)
       
    4. Baca Lukas 15:17. Apa arti bahwa ia “menyadari keadaannya”? (Ia sadar bahwa ia telah gagal. Apapun dampak dari kelaparan tersebut, secara finansial ia telah terpuruk.)
      1. Apakah kegagalan kadang-kadang bisa menjadi berkat?
         
    5. Baca Lukas 15:18-19. Apa menurut saudara anak tersebut menghapalkan kalimat-kalimat ini dalam perjalanan pulangnya?
      1. Jelaskan kalimat pembuka dalam negosiasi sang anak ini. (Karya terbaik Tim Keller yang berjudul Prodigal God (pelajaran ini banyak didasarkan dari buku ini) menjelaskan bahwa sang anak ingin dipekerjakan sebagai orang upahan agar dapat membayar apa yang telah ia ambil dari ayahnya.)
         
  3. Sang Ayah
    1. Baca Lukas 15:20. Apakah sang ayah, yang telah dipermalukan dan dicampakkan oleh anak egois ini, memperlakukan anaknya sebagaimana anaknya memperlakukan dia?
       
    2. Baca Lukas 15:21-24. Sejauh mana kalimat pembuka negosiasi yang telah dihapalkan oleh sang anak telah terucap? (Hanya bagian pengakuan. Tawaran pelunasan tenggelam oleh sambutan sang ayah.)
      1. Apa yang dilambangkan sebagai pesta dalam cerita Yesus? (Kerajaan Surga: Matius 22, Lukas 14.  Lihat juga, Wahyu 19.)
         
      2. Ketika anak bungsu tersebut diundang hadir ke pesta, padahal ia sebenarnya telah “mengembangkan sayap” meninggalkan rumah, apa yang dilambangkan oleh peristiwa ini? (Ia diselamatkan. Kebenaran datang berupa pemberian cuma-cuma ketika ia: A) Menyadari keberadaannya; dan b) Kembali, dengan pengakuan, kepada Bapanya. Sang ayah sedikitpun tak tertarik untuk mendengar tentang pelunasan.)
         
  4. Anak yang Sulung
    1. Baca Lukas 15:25-27. Kita baru saja membahas bagaimana keselamatan merupakan pemberian cuma-cuma bagi si anak bungsu. Apa benar cuma-cuma? Ataukah berasal dari kantong si anak sulung? (Jelas berasal dari kantong si anak sulung!)
       
    2. Baca Lukas 15:28-30. Bagaimana reaksi saudara sulung ini atas hilangnya harta miliknya demi sang adik?
      1. Ingat bahwa anak bungsu tersebut peduli terhadap kekayaan ayahnya, bukan peduli kepada ayahnya. Bagaimana penggambaran saudara akan sikap si anak sulung terhadap ayahnya? (Jika ia mengasihi ayahnya, ia akan bersukacita dengan ayahnya. Namun, ia sangat tidak menaruh rasa hormat kepada ayahnya dan keinginan ayahnya. Ia menganggap ayahnya pelit terhadapnya (“anak kambing” bukan “lembu tambun”). Jadi, harta benda bukannya ayahnya yang memenuhi benaknya.
         
      2. Apa bedanya si bungsu dengan si sulung? Apakah mereka memiliki tujuan yang sama (harta milik, bukan ayah), hanya berbeda dalam metoda pencapaian tujuan?
         
      3. Jika saudara adalah anggota gereja yang setia, seberapa pentingkah berkat dan lindungan Allah bagi saudara?
        1. Bagaimana saudara menilai “harta milik” Allah dibanding kehadiran Allah?
           
        2. Bagaimana dengan hal berikut ini:   Jika  saudara memiliki lebih sedikit “kekayaan” apakah saudara merasakan lebih banyak “kehadiran” Allah? Apakah saudara terpaksa untuk lebih percaya dan bersandar pada Allah jika saudara memiliki lebih sedikit?
           
      4. Apakah si anak sulung datang ke pesta? (Tidak.)
        1. Mengapa? Perhatikan lagi apa yang dikatakan oleh anak sulung tersebut. (Dirinya itu: A) Terlalu baik untuk hadir (“Saya menjadi budak” sementara yang bungsu "bersama pelacur-pelacur"); dan, b) Ia marah terhadap sikap murah hati sang ayah ("Anak bapa" yang demi dia engkau "menyembelih anak lembu tambun.”))
           
        2. Apakah anak yang sulung hilang selamanya dan anak yang bungsu selamat selamanya? (Anak yang sulung tidak datang ke pesta ayahnya.)
          1. Baca Lukas 15:31-32. Apa artinya “selalu bersama-sama dengan aku"? (Masalahnya adalah apakah memiliki “barang-barang Allah” dan berada dengan Allah (di sini) sama dengan keselamatan. Ini pertanyaan yang bisa diperdebatkan dan saya mungkin saja salah.  Namun, saya berpendapat bahwa menolak undangan Allah untuk datang ke pesta karena saudara terlalu baik dan terlalu peduli akan kepemilikan saudara merupakan hal yang sangat fatal.
             
        3. Kita kembali kepada para pendengar Yesus. Bagaimana pertalian kisah ini dengan kedua kelompok pendengar tersebut?
          1. Saudara berada dalam kelompok yang mana?
             
  5. Orang yang Tidak Ada
    1. Apabila saudara memikirkan kedua cerita pertama dari Lukas 15, apa tema yang sama dalam kedua kisah ini yang tidak ada dalam cerita tentang dua kakak-beradik ini? (Tak seorang pun yang berupaya untuk mencari dan menemukan si adik yang hilang.)
      1. Dalam cerita tentang dua bersaudara ini, siapa yang sewajarnya pergi melakukan pencarian? (Sang kakak.)
        1. Mengapa ia tidak melakukan pencarian? (Ia tidak menginginkan adiknya kembali. Ia memberi nilai lebih terhadap kepemilikannya tinimbang saudaranya dan sukacita ayahnya.)
           
        2. Sebelum keuangannya terpuruk, akankah si adik menyisihkan waktu untuk mencari kakaknya? (Tidak. Ia terlalu sibuk menikmati harta miliknya. Ia terfokus pada dirinya sendiri.)
           
    2. Siapakah “Sang Kakak” yang tidak ada dalam kisah kita ini? (Yesus. Ia datang untuk menemukan kita.)
      1. Adakah dalam cerita ini orang yang mencari si anak hilang tersebut? ((Perhatikan bahwa dalam Lukas 15:20 si ayah berlari mendapatkan anak bungsunya. Dalam Lukas 15:28 sang ayah meninggalkan pesta untuk menemui dan memohon pada anaknya yang sulung.)
         
      2. Jika saudara ada di gereja, apakah saudara menjadi seorang anak sulung yang selayaknya bagi orang berdosa dan pemungut cukai?
         
      3. Sejauh mana kepedulian saudara untuk mengamankan harta milik saudara menghalangi saudara untuk menolong “para anak bungsu” di jemaat saudara?
         
    3. Sobat, jika engkau sementara membaca pelajaran ini, saya menduga bahwa saudara seorang “kakak”. Maukah engkau minta Roh Kudus untuk mengaruniakan pengertian dalam hati saudara untuk menjawab pertanyaan: “Apakah aku mencintai berkat-berkat yang aku dapatkan dari melayani Allah lebih dari mengasihi Allah yang telah mati untukku"? “Apakah kebajikanku dan kekuatiran akan diri sendiri menghalangi aku untuk masuk ke dalam keselamatan"
       
  6. Pekan depan: Jubah Pernikahan.