Teladan Kerasulan

(1 Tesalonika 2:1-12, Matius 6)
Indonesian
Year: 
2012
Quarter: 
3
Lesson Number: 
5

Pendahuluan: Beberapa tahu yang lalu, saya setuju untuk mengambil alih satu perkara di Connecticut dari pengacara lain yang meyakinkan saya kalau kasusnya “sederhana”. Ketika pertama kali saya menemui hakim, ia berteriak pada pengacara-pengacara. Ia katakan kalau ia tidak punya waktu untuk menangani kasus kami, oleh karena itu kami diminta kembali bulan depan. Kemudian saya berlibur di tepi pantai. Ketika saya duduk di pantai memandang ke laut, menurut Anda apa yang saya lakukan? Menikmati matahari, pasir dan air laut? Tidak! Saya memikirkan bagaimana saya akan membela perkara dihadapan hakim yang suka berteriak. Merenungkan situasi tidak menyenangkan menghambat saya untuk merenungkan keindahan saat ini. Saat ini saya sedang membaca buku tentang otak yang menyarankan kalau kita harus lebih berhati-hati dengan pemikiran kita, dan memperhatikan perbedaan antara memusatkan perhatian akan saat ini dan merencanakan hari esok. Apakah konsep ini Alkitabiah? Mari selami pelajaran kita tentang surat-surat kepada Tesalonika dan temukan lebih jauh!

  1. Saat Ini
    1. Baca Matius 6:31-34. Apa yang Yesus sarankan harus menjadi pusat pemikiran kita? (Saat ini, gantinya mengkhawatirkan hari esok.)
      1. Ada sejumlah ayat-ayat Alkitab yang mengajarkan kita untuk menjadi pekerja yang rajin, memakai akal sehat, dan melakukan perencanaan. Mengapa Yesus katakan kita jangan mengkhawatirkan hari esok? (Allah megatetahui kebutuhan kita. Kita dapat “memindahkan” kekhawatiran masa depan padaNya.)
        1. Mengapa ada baiknya kita “memindahkan” kekhawatiran kita? (Otak kita hanya dapat memusatkan perhatian pada beberapa hal pada saat yang sama. Memindahkan kekhawatiran dari puncak pemikiran kita, mengijinkan kita untuk memusatkan perhatian kita pada hal-hal lain.)
      2. Apa yang Allah minta dari kita, gantinya mengkhawatirkan masa depan? (Memajukan Kerajaan Allah. Kita dapat gantikan pemikiran melakukan yang baik dengan mengkhawatirkan masalah yang mungkin terjadi besok.)
      3. Dalam cerita saya tentang hakim yang berteriak, semua kekhawatiran saya tidak ada gunanya. Ketika saya datang bulan berikutnya, hakimnya adalah seorang yang baik dan menyenangkan. Rupanya, mereka dirotasikan satu wilayah ke wilayah yang lain, dan hakim yang suka berteriak dipindahkan ke wilayah lain.
    2. Baca 1 Tesalonika 2:1-3. Paulus memusatkan perhatian pada jangka waktu apa? (Ia mengingatkan maereka akan masa lalu, untuk menjelaskan saat sekarang.)
    3. Sebelumnya kita telah membicarakan bagaimana mereka dipukuli di Filipi, dan mereka hampir saja tidak dapat meluputkan diri dari pemukulan di Tesalonika. Paulus menyangkal kalau ia mencoba untuk menipu mereka, mempunyai maksud yang tidak suci atau bersalah. Apakah yang disarankan oleh masa lalu tentang kebenaran dari tuduhan-tuduhan tersebut? (Paulus berargumentasi kalau menghadapi pemukulan akan membuat mereka yang tidak jujur mundur. Mereka yang tidak jujur akan mencari cara yang lebih mudah untuk hidup.)
  2. Teladan
    1. Baca 1 Tesalonika 2:4. Dua alasan apa yang Paulus berikan mengapa ia harus dipercaya? (Ia katakan “Perhatikan bagaimana kita berkata-kata”. Kedua, ia menyarankan kalau pukulan bukanlah tanda kegagalan, karena mereka tidak mencoba untuk menyenangkan orang lain – hanya Allah.)
      1. Amaran Paulus bagi mereka untuk memperhatikan bagaimana mereka berkata-kata adalah peringatan untuk mengamati saat ini. Apa perkataan mereka yang penting? (Mereka berkata-kata seakan mereka diberikan pekabaran dari Allah. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka “direstui” dan “dipercayakan”.)
        1. Menurut Anda apakah artinya ini? (Pasti ada unsur kompetensi, kejujuran dan keyakinan dari cara mereka berkata-kata.)
      2. Pernahkan Anda merenungkan bagimana cara Anda berkata-kata berdampak pada Kerajaan Allah?
        1. Apakah Anda berbicara seperti seorang yang “direstui Allah untuk dipercayakan dengan penginjilan?”
        2. Kalau tidak, mengapa tidak? (Bertahun-tahun yang lalu saya menanyakan diri saya sendiri pertanyaan ini – apakah pengaruh saya kepada orang lain? Apakah saya menolong Allah atau Setan? Saya malu ketika saya berkesimpulan kalau pengaruh saya dalam banyak hal negatif, dan bertekad untuk merubahnya.)
    2. Baca 1 Tesalonika 2:5. Apakah yang tidak ada dalam perkataan mereka? (Pujian dan ketamakan.)
      1. Saya menggunakan kata pujian dalam berhubungan dengan orang lain. Apakah itu salah? (Memuji orang lain untuk tugas yang baik adalah karunia yang menguatkan. Paulus meminta orang di Tesalonika untuk saling menguatkan. 1 Tesalonika 5:11. Disisi lain, pujian yang dibuat-buat untuk memperoleh sesuatu bukanlah taktik penginjilan.)
    3. Baca 1 Tesalonika 2:6. Ini adalah kelanjutan dari pernyataan Paulus di ayat 4 bahwa mereka coba untuk menyenangkan Allah bukan manusia. Apakah ini (“kami tidak mencari pujian dari manusia”) sikap membela diri – karena bukan saja Paulus baru saja ditolak, ia diserang secara fisik – atau ini adalah sikap yang harus kita tiru?
      1. Dalam membahas hal ini, dapatkah kita sepakat kalau kita seharusnya tidak mencoba untuk menyenangkan manusia gantinya Allah?
      2. Cara Paulus disini seolah menyenangkan Allah dan manusia adalah dua hal yang berbeda. Bagaimana dengan pemikiran menyenangkan keduanya Allah dan manusia?
      3. Kalau Anda hanya memikirkan untuk menyenangkan Allah, apakah hidup Anda akan lebih baik atau buruk?
      4. Kalau manusia memuji Anda, apakah itu akan membuat ragu dari pemikiran apakah Allah berkenan dengan Anda? (Ini mungkin hal paling penting yang perlu dipertimbangkan.)
      5. Renungkan orang dalam hidup Anda yang mengatakan, “Saya tidak perduli apa yang orang lain pikirkan”. Orang seperti apakah mereka? Apakah mereka perduli akan apa yang Allah pikirkan?
      6. Pernahkah Anda melihat orang melakukan tugas secara sembarang di gereja karena mereka tidak perduli apa yang orang lain pikirkan? (Dari pengalaman saya, mereka yang mengatakan tidak perduli akan apa yang orang lain pikirkan tidak melakukan tugasnya dengan baik. Alkitab menuliskan dengan nada positif tentang dorongan dan nasehat. Buat saya ada saatnya, dimana pujian dan dorongan lebih penting daripada uang. Ditambah, pujian yang tulus meningkatkan kinerja. Saya pikir Paulus disini sedang membela diri, tetapi tidak diragukan kalau terutama kita harus menyenangkan Allah.)
  3. Kerja Keras
    1. Baca 1 Tesalonika 2:6-9. Paulus katakan, “Kami dapat meminta kamu untuk menafkahi kami, tetapi itu tidak kami lakukan. Gantinya kami bekerja siang dan malam untuk memberitakan injil Allah kepada kamu dan juga menafkahi diri kami”. Bagaimanakah ini sehubungan dengan pekabaran injil Paulus? (Itu menunjukkan tamak bukanlah tujuan dari Paulus dan sahabat-sahabatnya. Ia justru memberi kepada orang Tesalonika.)
      1. Argumentasi apa lagi yang Anda temukan disini? (Paulus katakan ini bukti kasih kami kepada kamu. Kami tidak mengasihi dri kami sebesar kasih kami kepada kamu.)
      2. Kalau Anda bertanya-tanya, sama halnya dengan pelayanan ini. Saya tidak mendapatkan uang dengan menuliskan pelajaran ini, justru saya mengeluarkan biaya. Semua penterjemah adalah tenaga sukarela. Kadang-kadang, pembaca mengirimkan sedikit kontribusi dan itu merupakan pemasukan. Ini saya berikan kepada anak saya yang menangani situs, distribusi email, membiayai iklan untuk mempromosikan pelajaran ini dan menutupi pengeluaran.
    2. Baca 1 Tesalonika 2:10-12. Simak apa yang telah Paulus tuliskan sejauh ini. Hal-hal apakah yang membuat ia berkesimpulan kalau mereka telah berlaku “suci, adil dan tidak bercacat?” (Mereka mederita secara fisik, mereka tidak menuntut uang, Mereka tidak tamak. Khotbah mereka sesuai dengan Alkitab dan tidak disesuaikan untuk menyenangkan manusia. Mereka memperlakukan anggota jemaat seperti orang tua yang kasih memperlakukan anak-anaknya. Mereka mendorong hidup benar.)
      1. Apakah Anda perhatikan kalau Paulus katakan ia “menguatkan” mereka? Ini mengembalikan kita pada pembicaraan pujian.
    3. Sahabat, sudahkah Anda menyimak hidup Anda? Sudahkah Anda meneliti dengan tajam dan jujur saat ini? Dapatkan Anda katakan dalam kehidupan sehari-hari Anda memantulkan sikap dan tindakan-tindakan yang Paulus katakan menunjukkan seorang yang “suci, benar dan tidak bercacat”? kalau tidak, mintalah Roh Kudus untuk menolong Anda menyadari hal ini, dan merubah sikap dan tindakan-tindakan Anda?
  4. Minggu depan: Sahabat-sahabat Kekal