Bertumbuh di dalam Kristus

(Roma 6, 1 Yohanes 3, Efesus 6)
Indonesian
Year: 
2012
Quarter: 
4
Lesson Number: 
5

Pendahuluan: Pekan lalu kita mempelajari inti injil: Keselamatan itu cuma-cuma oleh kasih karunia semata. Dengan upaya sendiri mustahil kita mendapatkannya. Pelajaran kita pekan ini dan dua pekan berikutnya adalah tentang bagaimana orang-orang yang sudah selamat itu seharusnya hidup. Pernahkan saudara dipermalukan oleh anggota “kelompok” saudara? Mungkin keluarga saudara, gereja saudara, organisasi saudara, atau barangkali seorang pemimpin Kristen. Seseorang melakukan sesuatu yang mendatangkan malu. Karena berkecamuk pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, dan orang-orang yang selamat oleh kasih karunia memihak pada kebaikan, tidakkah kita akan melakukan segala yang kita bisa untuk membantu kebaikan, membayar kasih dengan kasih, dan tidak merugikan nama Yesus? Mari selami Alkitab kita dan lihat apa yang diajarkannya mengenai bagaimana orang-orang yang yakin akan keselamatan mereka seharusnya hidup!

  1. Mati bagi Dosa
    1. Baca Roma 6:8. Bagaimana caranya kita “mati dengan Kristus?” (Baca Roma 6:1-3. Ini salah satu hal mengagumkan dari kasih karunia. Hukuman dosa adalah maut. Alkitab mengatakan bahwa ketika kita dibaptiskan, kita turut serta dalam kematian Yesus yang menggantikan kita. Hutang kita lunas!)
    2. Baca Roma 6:4-7. Bagaimana hubungan kita dengan dosa setelah baptisan? (Manusia lama kita mati, karenanya kita telah “bebas dari dosa.”)
      1. Begitukah rasanya? (Saya bergumul dengan dosa. Jika saudara bilang saudara tidak bergumul dengan dosa, kemungkinan besar saudara sedang bergumul dengan kejujuran.)
      2. Manakala Paulus menuliskan bahwa kita telah “bebas dari dosa,” bagaimana dampaknya terhadap hubungan kita dengan dosa? (Menurut saya yang ia maksudkan adalah kita bebas dari paksaan untuk memilih dosa. Dosa tidak lagi menjadi tuan di luar kemauan kita.)
  2. Pilihan
    1. Baca Roma 6:8-10. Perhatikan baik-baik. Jika kita mati dengan Kristus, apakah itu berarti saya telah mati terhadap dosa dengan cara supranatural, sekalipun dosa tampaknya masih menggoda saya?
    2. Baca Roma 6:11. Jika kita mati terhadap dosa dalam baptisan, mengapa Paulus meminta kita untuk “menganggap dirimu mati terhadap dosa” [Alkitab BIS] (Menurut saya, Paulus sementara memberikan argumentasi menurut akal sehat, bukan argumentasi supra natural. Katanya keselamatan telah dimenangkan oleh Yesus untuk kita. Dalam baptisan kita turut serta dalam kematian Yesus yang menggantikan kita. Sekarang hiduplah seperti kita telah mati terhadap dosa.
    3. Baca Roma 6:12. Jika suatu hal supranatural terjadi pada diri saya untuk membinasakan manusia lama saya yang berdosa, mengapa Alkitab menyuruh saya untuk tidak mengijinkan dosa jangan berkuasa di dalam tubuh saya? (Ini menunjukkan bahwa menghidupkan kehidupan yang suci merupakan sebuah pilihan. Paulus meminta kita memilih untuk menolak dosa.)
      1. Keinginan jahat apa yang kita sedang bahas? (Dosa dalam “tubuh fana” saya memiliki keinginan jahat. Ayat ini membawa terang besar. Orang yang telah dibaptis, yang manusia lamanya telah disalibkan, punya keinginan jahat! Ini baru cocok dengan apa yang saya alami dalam hidup ini.)
      2. Perhatikan kata yang sangat penting, “berkuasa”. Apa yang Paulus utarakan mengenai sifat alami dosa dalam hidup kita saat ia berkata, “hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana?” Apa yang tidak ia utarakan mengenai dosa? (Ia tidak mengatakan “Tidak akan ada lagi satu molekul dosa dalam hidupmu.” Tidak, ia katakan, “Jangan biarkan dosa mengendalikan hidupmu!” Jika saudara mendapati diri saudara (orang yang sudah selamat) bergumul dengan dosa, itu artinya saudara sedang dalam perjalanan menuju kesucian.)
    4. Baca Roma 6:13. Bagaimana seharusnya kita menghadapi dosa? (Pilihan. Pilihlah Allah, bukan dosa. Gunakah tubuh kita untuk melakukan apa yang menyenangkan Allah. Jangan gunakan tubuh kita untuk melakukan apa yang jahat.)
    5. Baca Roma 6:14. Apakah hasilnya masih dipertanyakan? (Selama kita diselamatkan oleh kasih karunia, dosa tidak akan menjadi tuan kita. Kadang-kadang kita mungkin bertanya-tanya, namun hasilnya jelas. Paulus mengatakan “Hiduplah sebagaimana orang yang pasti selamat.” Perhatikan bahwa yang dirisaukan adalah ihwal dosa menjadi tuan kita, berkuasa atas kita, bukan tentang pergumulan yang lazim melawan dosa.)
    6. Baca Roma 6:15. Mengapa Paulus menambahkan pertanyaan ini? (Orang mengatakan hal yang sama sekarang ini seperti halnya yang dikatakan orang ribuan tahun yang lalu, “Jika saya diselamatkan oleh kasih karunia cuma-cuma, dan tidak ada upaya yang bisa saya lakukan agar selamat, maka tidak apa terus berbuat dosa!” Atau, jika saudara seorang pengeritik kasih karunia, saudara berkata, “Kasih karunia cuma-cuma berarti apa yang saudara lakukan tidak jadi masalah!”)
    7. Baca Roma 6:16-18. Mengapa dosa masih jadi soal bagi orang-orang yang telah yakin akan keselamatan mereka? (Kita telah menetapkan pilihan. Kita telah memilih Allah sebagai Tuhan kita. Allah telah membebaskan kita dari hukuman dosa. Karenanya kita perlu mengasihi dan setia kepada Panglima kita.)
  3. . Gambaran Besar
    1. Pikirkan dosa kesayangan (atau yang paling mengganggu). Sudah? Bagaimana dampaknya terhadap orang lain? Apakah dampak tersebut mencerminkan kasih ataukah mementingkan diri di pihak saudara? Apakah tindakan saudara memajukan ataukah menghalangi Kerajaan Allah?
      1. Apakah saudara menghabiskan banyak waktu memikirkan bagaimana dosa saudara mencelakakan orang lain?
    2. Baca Efesus 6:10-13. Apa hakekat dari pertentangan melawan dosa? (Allah lawan “roh-roh jahat di udara.”)
      1. Bagaimana kita menjadi bagian dari pertentangan ini? (Nasihat untuk mengenakan “seluruh perlengkapan senjata” sepertinya menyatakan bahwa kita ini pejuang. Kita ini prajurit.)
      2. Apa yang menjadi sumber kekuaan kita? (Allah)
      3. Siapa yang bukan musuh kita? (Bukan orang berdosa lainnya.)
      4. Pertempuran seperti apakah ini? Bagaimana kita bisa melawan Setan dan pengikutnya?
    3. Baca cepat Efesus 6:14-18. Apakah kesamaan dari alat-alat perang ini? (Kecuali pedang, semuanya murni senjata untuk bertahan.)
      1. Apa yang disiratkan di sini mengenai hakekat dari pertempuran kita? (Kita adalah medan perangnya! Hidup kita medan perangnya.)
      2. Jika hidup kita merupalan medan perang, apakah masuk akal jika cara kita bertindak itu penting?
    4. Baca 1 Yohanes 3:1-3. Bagaimanakah perasaan anak-anak terhadap orang tua yang penuh kasih? (Sebagai satu keluarga mereka bersama-sama menghadapi dunia.)
      1. Apa yang terjadi jika seseorang menyerang anggota keluarga saudara? (Reaksi alami saudara adalah membela anggota keluarga tersebut.)
    5. Baca 1 Yohanes 3:4-5. Bagaimanakah pemahaman kita tentang keluarga menuntun pemikiran kita tentang dosa? (Allah sementara bertempur melawan dosa. Sebagai bagian dari keluarga-Nya kita menjadi bagian dari pertempuran ini. Yesus mati untuk menyelamatkan kita dari dosa. Jika kita melihat “gambaran besar”-nya, gantinya berfokus pada kehebohan sementara dari masalah dosa kita, kita akan menyadari betapa pentingnya menyatakan sikap melawan dosa dalam kehidupan kita.)
      1. Bagaimanakah analogi “keluarga” disandingkan dengan analogi senjata dalam Efesus 6? (Sangat pas. Kita selamat oleh kasih karunia, namun kita bertempur untuk menjaga integritas “keluarga” kita (Allah dan sobat-sobat Kristen). Jangan sampai kita membawa malu kepada keluarga. Kita membantu anggota keluarga lainnya.)
    6. Baca ulang 1 Yohanes 3:4-7 kemudian baca Roma 7:14-18. Bagaimanakah saudara mempertemukan kontradiksi yang kelihatannya timbul antara Yohanes dan Paulus? (Menurut saya Paulus sedang berargumentasi tentang “gambaran kecil”, artinya “Apa arti dosa dalam hidup saya?” Jawabnya, artinya kita ini manusia. Yohanes, di lain sisi, berargumentasi tentang “gambaran besar.” Jika kita menjadi bagian dari “keluarga Allah,” jika keluarga kita berada dalam pertempuran besar melawan kejahatan, maka kita tentu ingin menjauhkan dosa dan kejahatan dari hidup kita.
    7. Baca 1 Yohanes 3:8-10, Roma 8:1-4 dan Roma 8:9-11. Kita dapati di sini bahwa jurang pemisah yang tadi terlihat antara Yohanes dan Paulus telah menyempit. Di sinilah gambaran besar dan gambaran kecil bertemu dalam bingkai yang sama. Bagaimanakah ayat-ayat ini menolong kita untuk lebih mengerti tentang kasih karunia? (Kita diselamatkan oleh kasih karunia semata. Keputusan untuk menerima Yesus merupakan keputusan untuk memilih hidup sesuai dengan Roh Kudus, bukannya sesuai dengan sifat berdosa kita. Kesucian harus menjadi tujuan kita – dan kita harus sungguh-sungguh dengan tujuan kita.)
    8. Baca Kolose 2:13-17. Apa yang mengemuka di sini mengenai hakekat dosa? (Saat menapaki jalan menuju kesucian, kita perlu menyadari bahwa dosa berfokus pada hubungan kita dengan Yesus. Kita akan menyelidiki pokok bahasan ini nantinya.)
    9. Sobat, apakah engkau risau dengan dosa-dosamu? Apakah konsep selamat oleh anugerah semata membuatmu buruk dalam penurutan akan kehendak Allah? Bagaimana kalau hari ini engkau menetapkan untuk menjadikan kesucian sebagai tujuanmu?
  4. Pekan depan: Menang atas Kuasa Kejahatan.