Karakter Ayub

Indonesian
(Ayub 1, 29 & 31)
Year: 
2016
Quarter: 
4
Lesson Number: 
13

Pendahuluan: Ayub adalah pemenang bagi Tuhan. Dalam pertentangan antara yang baik dan jahat, Tuhan mengangkat Ayub sebagai pejuangNya dalam pertarungan dengan Setan. Yang menarik, Setan memilih dirinya sendiri sebagai pejuang dari pihaknya. Apakah ini mengingatkan Anda kepada seorang lain dalam Alkitab? Bagaimana dengan Adam dan Hawa? Mereka adalah inti dari pertarungan antara Tuhan dan Setan. Bagaimana dengan Yesus? Dalam hal ini Tuhan menunjuk diriNya sendiri, tetapi dalam wujud manusia, untuk menjadi Pemenang kekal. Pernahkah Anda berpikir apakah Anda seorang pejuang bagi Tuhan? Apakah penting kalau Anda berhasil seperti Ayub dan Yesus, atau gagal seperti Adam dan Hawa dalam pertentangan antara yang baik dan jahat? Saya pikir itu penting. Minggu ini kita akan melihat bagaimana Ayub hidup untuk mendapatkan hal-hal yang dapat kita ambil untuk menjadi pejuang bagi Tuhan. Mari masuki pelajaran Alkitab kita!

  1. Sikap-sikap Ayub yang Benar

    1. Baca Ayub 1:1. Empat hal dikatakan disini tentang Ayub. Ia tidak bercela, benar, takut Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Apakah ke empat hal ini sama artinya? Atau, apakah Anda melihat perbedaan diantara ke empatnya? (Saya melihat perbedaan diantara ke empatnya. “Tidak bercela” kelihatannya mengatakan kalau Anda tidak dapat menemukan kesalahan dia. “Benar” mengartikan kalau Ayub melakukan apa yang benar.)

      1. Sementara tidak bercela dan benar memiliki banyak persamaan, menurut Anda apakah arti, dalam prakteknya, untuk “takut Tuhan?” (“Takut” Tuhan berhubungan dengan suatu sikap: rasa hormat dan menunjukkan penghormatan terhadap Tuhan. Mungkin itu juga mengartikan pengertian kalau Tuhan memiliki rencana terbaik bagi alam semesta dan bagi kita.)

      2. Apakah ini berbeda dengan “menjauhi kejahatan?” (Sementara banyak yang mengerti kalau Tuhan memiliki rencana terbaik bagi hidup mereka, mereka menemukan diri mereka ditarik kepada yang jahat.)

        1. Apakah ini situasi Anda? Dalam situasi dimana Anda memiliki kelemahan untuk berdosa, apakah anda menarik garis bagi diri Anda, dan mendekati garis tersebut sedekat mungkin dengan pemikiran Anda tidak akan melewati garis? (Ini berlawanan dengan “menjauhi” yang jahat.)
    1. Baca Ayub 1:8. Apakah Anda mau menjadi yang terbaik? Apakah ada bagian dari hidup Anda dimana Anda mau berkata, “Tidak ada yang lebih baik dari saya dalam hal ini?” Apakah yang ayat ini katakan tentang peringkat Ayub? (“Tiada seorangpun di bumi” yang “seperti dia” dalam karakteristik-karakteristik yang kita sudah bicarakan: tidak bercela, benar, takut Tuhan dan menjauhi kejahatan.)

      1. Bagaimana kelihatannya hidup dengan karakteristik-karakteristik ini? Lihat kelanjutannya.
  1. Perbuatan-perbuatan Benar Ayub

    1. Baca Ayub 29:11-12. Kita melihat orang miskin di sekeliling kita. Alkitab tidak mengajarkan kalau setiap orang harus memiliki kekayaan yang sama. Gantinya, disarankan kalau yang miskin kemungkinan memiliki kelebihan rohani (Yokobus 2:5) dan mengajarkan kalau orang Kristen harus belajar untuk puas dengan apa yang mereka miliki (Filipi 4:12; Ibrani 13:5). Bagaimana Ayub memilih orang miskin yang mana untuk ditolong? (Ia menolong orang miskin yang “berteriak minta tolong” dan ia menolong anak piatu yang “tidak ada penolong”nya.)

      1. Baru-baru ini saya berjalan keluar dari sebuah toko, dan seorang muda yang bermaksud baik berkata pada saya kalau sepulang kerja ia akan melakukan “tindakan kebaikan pada sembarang orang”. Saya pertanya kepadanya, “Mengapa sembarang? Mengapa tidak disengaja?”

        1. Apakah Ayub melakukan perbuatan baiknya secara “sembarang”? (Tidak. Kita lihat kalau ia memiliki suatu strategi. Menolong mereka yang sungguh-sungguh meminta (“berteriak minta tolong”), dan menolong mereka yang tidak ada penolongnya.)
    1. Baca Ayub 29:13. Pertolongan seperti apakah ini?

      1. Apakah yang menjadi kepentingan utama bagi seseorang yang hampir mati? (Selain dari fakta kalau ia akan mati, ia mementingkan keluarganya. Dalam hal ini, istrinya.)

      2. Mengapa hati seorang janda bernyanyi ketika suaminya hampir mati? (Kalau Anda memikirkan situasi ini, sudah jelas bahwa Ayub membuat rencana untuk memastikan janda itu akan terbantu. Perkiraan saya Ayub memberikan dia pekerjaan di salah satu usahanya.)

    2. Baca Ayub 29:16-17. Apa pendapat Ayub tentang ketidakadilan? (Ia mengambil langkah untuk menghentikannya.)

      1. Apa, secara spesifik, yang Ayub lakukan? (Ia membela kepentingan “orang asing” – seseorang yang tidak mempunyai kenalan di pengadilan. Ia menolong korban dari orang jahat.)

      2. Apakah Anda terkejut kalau Ayub mau meremuk geraham orang curang? Apakah artinya? Ia meninju mulut orang jahat? (Terjemahan saya mengatakan kalau Ayub mematahkan “taring” orang jahat. Pada seekor ular, taring adalah alat untuk menyalurkan racun. Saya pikir Ayub mematahkan cara yang dipakai orang jahat untuk melakukan kejahatannya.)

        1. Seandainya Anda adalah Ayub di jaman modern. Bagaimana Anda melakukannya sekarang? (Di Amerika Serikat, pemerintah mendanai atau memaksa pendanaan dari organisasi yang mempromosikan kejahatan. “Mematahkan taring” dari organisasi-organisasi ini dengan mencoba untuk menahan pendanaan mereka.)
    3. Baca Ayub 31:1. Kita tidak tahu kapan Ayub hidup, tetapi jelas sebelum Yesus menjelaskan pandanganNya secara luas tentang perzinahan dalam Matius 5:27-28. Bandingkan Matius 5:28 dan Ayub 31:1 dan katakan pada saya kalau menurut Anda Yesus dan Ayub maksudkan hal yang sama?

      1. Ketika Yesus katakan ketika seorang memandang perempuan dan menginginkannya “sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”, menurut Anda apa arti “di dalam hatinya”? (Pengertian saya itu berarti kalau seseorang mau berzinah dengan seorang perempuan, tetapi karena satu dan lain hal tidak dapat, dosa pikiran telah dilakukan. Baik seorang lelaki (atau perempuan) ada kesempatan atau tidak itu sama saja.)
    4. Baca Ayub 31:1-3. Apakah pesan keseluruhan dari Ayub dalam ayat-ayat ini? (Tuhan akan membinasakan orang jahat.)

      1. Kalau seseorang menyimpan dalam hatinya keinginan untuk berzinah dengan orang lain yang bukan pasangannya, apakah itu akan membawa kebinasaan orang itu di dunia ini? (Keluaran 20:17 memerintahkan kita untuk tidak menginginkan pasangan orang lain. Isinya menyarankan kalau Ayub dan Yesus membicarakan hal yang berbeda. Ayub memusatkan pada topik menginginkan seseorang yang bukan pasangan Anda. Yesus berbicara tentang keputusan untuk melakukan perzinahan, kalau memungkinkan. Karena Ayub katakan kepada kita kalau Tuhan akan membinasakan mereka yang tidak menurut, ia katakan “Saya bertekad untuk tidak mengambil langkah pertama menuju ketidakpatuhan dengan tidak melihat dengan keinginan pada serang perempuan.”)
    5. Mari melompat beberapa ayat ke depan karena Ayub mngulangi topik ini. Baca Ayub 31:9-10. Apakah Ayub berbicara tentang dosa-dosa pikiran disini? (Sementara tidak sepenuhnya jelas, pernyataannya kalau orang lain tidur dengan istrinya menyarankan jenis dosa yang ia sedang bicarakan – melakukan perzinahan secara fisik.)

    6. Baca Ayub 31:11-12. Apa yang Ayub katakan hasil dari melakukan perzinahan? (Ayub katakan itu adalah “api yang memakan Habis,” “memalukan,” dan sesuatu yang akan “menghanguskan panenku”. Ini adalah dosa dengan akibat kekal, sesuatu yang membayangi hal-hal baik yang mungkin saja dilakukan orang itu sebelumnya.)

    7. Baca Ayub 31:5-6. Dalam cara lain apa Ayub menurut Tuhan? (Ia jujur. Bukanlah kebiasaan dia untuk berlaku tidak jujur (“berjalan dalam dusta”), dan ia tidak berusaha menipu orang lain (“melangkah cepat ke tipu daya”).)

I. Baca Ayub 31:13-15. Dalam cara lain apa Ayub setia pada Tuhan? (Dalam cara ia memperlakukan mereka yang bekerja baginya.)

  1. Apakah Anda harus menjadi seorang majikan untuk melakukan hal ini? (Tidak. Setiap orang yang berada dibawah kendali Anda, walaupun untuk sementara, berhak atas “keadilan”. Ini termasuk orang yang Anda bawahi di tempat kerja, atau mereka yang melayani Anda dalam satu dan lain hal, seperti pelayan di restoran.)

  2. Apa alasan menunjukkan keadilan kepada mereka yang berada dibawah kekuasaan kita? (Keduanya sama dihadapan Tuhan.)

J. Sahabat, ketika Anda mempertimbangkann hal-hal ini dalam hidup Anda, bagaimanakah Anda dibandingkan dengan Ayub? Sementara kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia, dan bukan perbuatan kita, kita adalah “pejuang-pejuang” dalam pertempuran antara yang baik dan jahat, dan tindakan-tindakan kita berdampak kepada orang lain. Maukah Anda bertekad, sekarang juga, dengan kuasa Roh Kudus Anda akan menghidupkan suatu kehidupan yang memantulkan Tuhan dan memberikan dampak positif pada orang lain?

III. Minggu depan: Beberapa Pelajaran dari Ayub.