Pembenaran hanya oleh Iman

Indonesian
(Galatia 2:15-21)
Year: 
2011
Quarter: 
4
Lesson Number: 
4

Pendahuluan: Coba kita ulangi apa yang sejauh ini telah kita pelajari dalam pelajaran tentang surat Paulus kepada orang Galatia. Paulus punya kabar injil istimewa yang ia terima langsung dari Yesus. Pemimpin jemaat mula-mula meyakini hal ini, namun ada ketidaksepahaman di jemaat Galatia dan di antara umat percaya mula-mula mengenai kabar injil tersebut dan syarat-syaratnya. Pekan ini Paulus menjelaskan injil yang ia kabarkan. Sementara mempelajarinya, kita perlu menanyakan apakah hal-hal tersebut masih dipertentangkan di antara umat Kristen sekarang ini. Apakah benak kita masih mempertentangkannya? Mari selami pelajaran kita dan pelajari kembali inti dari kabar injil!

  1. Kabar Injil Paulus
    1. Baca Galatia 2:15-16. Apa peran penurutan hukum dalam keselamatan kita? (Tidak ada. “… tidak ada seorangpun yang dibenarkan.”)
      1. Apakah para pucuk pimpinan jemaat pada saat itu sepakat dengan pekabaran ini? (Ya. Mungkin saja sulit untuk mempertahankan haluan (lihat bagaimana Petrus menarik diri saat orang Yahudi dari pusat tiba di Galatia), namun itulah teologi yang disetujui para pemimpin.)
      2. “Hukum” apa yang Paulus maksudkan? Sepuluh Hukum? Hukum upacara? Semua tulisan Musa? (Tak soal bagaimana hukum tersebut didefinisikan kalau pemeliharaannya tidak menyelamatkan kita.) Jika keselamatan itu semata-mata oleh iman saja, maka apapun syarat-syarat yang saudara coba tambahkan itu bertentangan dengan kabar injil.)
  2. Kabar Injil Paulus dan Masalahnya
    1. Baca Galatia 2:17. Inilah pertanyaan besar yang masih sama relevan-nya pada saat ini – “Apakah kebenaran hanya oleh iman mendorong perbuatan dosa?” “Bagaimana bisa kamu bilang bahwa hukum tidak jadi soal - orang banyak akan jadi tak terkendali!" Apa jawaban Paulus? (Tidak, orang banyak tidak akan jadi liar. Injil tentang kebenaran hanya oleh iman tidak mendorong perbuatan dosa.)
      1. Bagaimana jika pertanyaan dalam ayat 17 diaplikasikan kepada saudara, bagaimana jawaban saudara? Apakah terbukti bahwa sementara berupaya untuk mendapat pembenaran oleh iman, saudara adalah orang berdosa? (Bagi saya ya.)
    2. Pernahkah saudara bertemu orang-orang Kristen yang mengatakan bahwa mereka benar-benar bebas dari dosa?
      1. Jika demikian, apa mereka fanatik menganjurkan kebenaran oleh iman? (Saya teringat dua orang yang mengatakan kepada saya bahwa menurut mereka penurutan hukum mereka amat baik. Yang seorang mengaku telah bebas dosa selama dua tahun. Saya menilai mereka meyakini bahwa penurutan merupakan syarat keselamatan.)
      2. Saya mengamati bahwa orang-orang yang merasa mereka sangat baik juga meyakini bahwa pemeliharaan hukum merupakan syarat memperoleh keselamatan. Pengamatan saya tidak ilmiah sebenarnya. Namun, jika saudara mendapati hal yang sama, mengapa saudara beranggapan bahwa orang-orang yang yakin bahwa mereka penurut meyakini bahwa penurutan mereka perlu untuk mendapatkan keselamatan?
        1. Dan, jika hal ini benar, maka logikanya keselamatan oleh usaha itu mendorong penurutan, bukan?
    3. Baca Galatia 2:18-19. Mengapa Paulus berargumentasi bahwa keselamatan hanya oleh iman tidak mendorong pelanggaran hukum (tidak mendorong perbuatan dosa)? (Saat Yesus mati ganti kita demi dosa-dosa kita, kita juga telah mati terhadap hukum. Karenanya hukum tidak lagi menghukum kita. Namun, jika kita membangun ulang hukum – dengan apa yang Paulus maksudkan bahwa jika kita percaya bahwa penurutan hukum menjadi syarat keselamatan - maka dosa kita akan diperhadapkan dengan kita dan kita kedapatan sedang melanggar hukum.)
      1. Coba kita perhatikan lagi. Paulus mengatakan ada tuduhan bahwa teologia yang beliau ajarkan itu mendorong pelanggaran hukum. Namun, Paulus mengaku bahwa yang benar adalah hal yang sebaliknya. Orang-orang yang mengatakan bahwa memelihara hukum perlu demi memperoleh keselamatan menjadikan semua orang menjadi pelanggar hukum – bahkan orang Kristen yang saleh sekalipun!
        1. Apakah ini semacam "silat kata?” Apakah argumen Paulus seperti kecepatan tangan dalam permainan sulap? Jika kita meniadakan batas kecepatan, maka tidak ada dari kita yang akan melewati batas kecepatan. Jika kita memberlakukan batas kecepatan, maka semua kita melanggar batas kecepatan. Meniadakan batas kecepatan menjadikan kita semua sebagai warga negara yang taat hukum!
    4. Baca Galatia 2:20-21. Jika pertanyaan saya yang terakhir membuat rusuh pikiran saudara, jelaskan bagaimana dengan tidak menjadikan hukum sebagai sumber keselamatan akan tercipta orang-orang yang lebih sempurna?) (Paulus menjelaskan bahwa sebagaimana halnya kita telah mati bersama Yesus dalam kematian-Nya, kita juga hidup bersama Yesus dalam kebangkitan-Nya. Kita "hidup untuk Allah" dan "Kristus hidup di dalam aku.")
      1. Konsep ini begitu abstrak tampaknya. Anggaplah besok saya “mati” terhadap semua rambu dan hukum lalu lintas. Seseorang yang mati tidak tahu apa-apa. Jadi, saya tidak tau apa-apa tentang hukum lalu-lintas. Apakah hal tersebut akan menjadikan saya mengemudi dengan lebih aman dan sempurna? (Jelas tidak akan seperti itu.)
      2. Bagaimana jika saya menambahkan fakta bahwa oknum yang menyusun semua hukum lalu lintas “hidup di dalam saya.” Saya akan jadi pengemudi seperti apa? (Jika di dalam diri saya ditanamkan Roh dari seorang yang menjadi perancang utama dari desain jalan raja, peraturan lalu lintas dan rambu lalu lintas, saya akan punya pemahaman yang sempurna mengenai bagaimana berkendara. Menurut saya itulah yang Paulus sementara ajarkan kepada kita.)
    5. Coba kita kembali ke Galatia 2:19 and pelajari lebih saksama frasa “mati untuk hukum Taurat”. Apa artinya “mati untuk hukum Taurat?” Apakah berarti kita menjadi tidak sensitif terhadap hukum? Bahwa kita hidup seolah-oleh hukum itu tidak ada?
      1. Galatia 2:20 mengatakan “Aku telah disalibkan dengan Kristus.” Mengapa Yesus mati? (Ia mati untuk membayar hukuman atas pelanggaran hukum. Ini artinya bahwa kita juga mati bersama Yesus (“disalibkan dengan Kristus”) atas pelanggaran hukum.)
        1. Dalam cara apa saya mati untuk hukum? (Saya mati terhadap penghakiman. (Saya mati terhadap hukuman atas pelanggaran hukum.)
      2. Apakah itu berarti kita tidak lagi perlu peduli hukum? (Tidak. Allah menuliskan hukum. Hukum itu baik. Namun, hukum tersebut tidak lagi menyertakan ancaman bahwa jika saya tidak mematuhinya saya akan mati. Saya sudah mati untuk hukum melalui Yesus.)
    6. Mari kita kembali kepada pertanyaan saya mengenai lalu lintas. Ingat pertanyaan saya tadi bahwa jika semua peraturan lalu lintas ditiadakan, apakah itu berarti tak seorangpun akan melanggar hukum mengenai kecepatan mengemudi? Menurut saya apa yang Paulus utarakan itu sedikit berbeda: Yesus telah membayar denda dari semua pelanggaran lalu lintas yang kita lakukan. Karenanya, hukum tersebut tidak membuat kita taat hukum. Apa yang membuat kita taat hukum adalah karena perancang jalan dan pemberi hukum lalu lintas tinggal dalam pikiran kita!
    7. Baca Roma 6:5-7. Paulus lagi-lagi menyinggung tentang kita yang mati dengan Yesus saat Ia mati untuk dosa-dosa kita. Namun, ia menambahkan sesuatu yang lebih dari “pelunasan denda" atas pelanggaran hukum. Apa yang ia tambahkan? (Ia mengatakan bahwa “diri lama” kita mati "supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya.”)
      1. Kira-kira apa yang dimaksud dengan kematian tubuh dosa? (Makna yang terkandung adalah bahwa keinginan lama terhadap dosa mati.)
        1. Apa yang Paulus tuliskan di sini terlihat amat jelas. Yang membuatnya tidak jelas adalah karena saya tahu keinginan lama saya masih hidup. Apa yang terjadi? Ataukah, saya memang orang Kristen yang sangat buruk? (Baca Roma 7:14:24. Paulus punya pengalaman yang persis sama dengan saya.)
        2. Bagaimana bisa “diri lama” saudara mati namun saudara masih punya pergumulan yang sama dengan yang Paulus gambarkan? (Kita akan bahas hal tersebut berikut ini.)
  3. . Hidup oleh Roh Allah
    1. Baca Roma 7:4 Jika kita telah mati untuk hukum, apa tujuan hidup kita? (Untuk menjadi “milik” Yesus untuk “berbuah bagi Allah.”)
    2. Baca Roma 7:5-6 Hukum ditambah sifat lama mendorong nafsu-nafsu dosa. Bagaimana Roh Kudus mengubah keadaan tersebut?
    3. Baca Roma 6:11-14. Bagaimanakah Roh Kudus menolong kita untuk hidup menurut ayat ini? (Mempersembahkan diri kita kepada Allah berarti bahwa kita mengatakan kepada Allah "Ini aku, bantu aku untuk menghidupkan kehidupan yang menyenangkan Engkau!")
    4. Baca Roma 8:5-9. Apa yang dikemukakan oleh ayat ini mengenai bagaimana kita seharusnya hidup? (Kembali, Paulus mengatakan bahwa kita harus memilih untuk melakukan apa yang diingini Roh Kudus.)
    5. Pembahasan kita ini memang tampaknya sangat abstrak. Coba kita tengok sebuah komentar Yesus yang mungkin bisa membantu kita. Baca Matius 5:27-28. Untuk memelihara hukum ini, apa yang akan dilakukan oleh orang yang percaya pada kebenaran oleh usaha? (Tidak melakukan hubungan sex di luar nikah.)
      1. Yesus membuat hukum jadi lebih buruk bagi para pemelihara hukum -- kata-Nya kamu harus juga mengendalikan pikiranmu supaya tidak melanggar perintah ini, bukan?
      2. Apa yang Paulus katakan mengenai ajaran Yesus? (Jika kita ingin berjalan dengan Allah, jangan memusatkan perhatian kepada hukum jangan berzinah, namun, perhatikan gelagat pikiran kita. Minta Roh Kudus untuk membantu saudara menata pikiran saudara agar sejalan dengan kehendak Allah.)
      3. Apakah berjalan dalam Roh Kudus perlu untuk memperoleh keselamatan? (Baca 1 Roma 5:19. Tidak. Hanya kehidupan Yesus yang sempurna yang menjadikan kita benar. Namun, hidup dalam Roh merupakan kerinduan dari orang-orang yang telah selamat.)
    6. Kini saudara paham mengapa Petrus mengatakan (minggu lalu) bahwa Paulus kadang-kadang sukar dimengerti! Sobat, maukah engkau bertobat dari dosa-dosamu dan memutuskan hari ini untuk setiap pagi minta Roh Kudus kudus menolong menata pikiranmu agar tertuju pada hidup yang sesuai dengan Roh Allah, bukan tertuju pada sifat alamiahmu yang berdosa?
  4. Pekan depan: Iman Perjanjian Lama.