Dari Budak menjadi Ahli Waris
(Galatia 3:26-4:20)
Indonesian
Year:
2011
Quarter:
4
Lesson Number:
8
Pendahuluan: Pekan lalu Paulus menjelaskan bahwa hukum itu ibaratnya kita pergi ke sekolah. Saat membahas masa sekolah, kita tentunya ingat bahwa sekolah tidak semata mengajarkan pelajaran penting mengenai cara supaya berhasil dalam hidup ini, namun juga mengajarkan bahwa kita bukanlah murid terpintar di kelas. (Dan murid terpandai belajar menyadari kenyataan tersebut saat ia naik kelas!) Setelah kita mempelajari hal-hal tersebut, Paulus menyimpulkan bahwa “kita tidak lagi diawasi oleh hukum agama.” (Galatia 3:25). Apa arti dari “tidak diawasi”? Bagaimana seharusnya kita hidup? Mari lanjutkan pelajaran kita tentang kitab Galatia dan temukan apa kata Allah!
- Putra-Putri Belia Allah
- Coba kita menyimpang sedikit. Baca Galatia 4:Mengapa dikatakan bahwa anak di bawah umur dari pemilik harta pusaka itu sama seperti seorang hamba? (Secara hukum, anak itu tidak punya hak atas harta pusaka tersebut. Namun bagi si anak akan tiba waktunya kondisi tersebut berubah. Bagi si hamba tidak demikian.)
- Baca Galatia 4:2. Ini mengingatkan pelajaran pekan lalu bahwa para orang tua kaya memiliki hamba-hamba yang akan mengurus anak-anak kaya yang masih belia dan memastikan bahwa anak-anak ini bersekolah. Kita telah pelajari bahwa hukum diibaratkan oleh si mentor ini. Kira-kira siapa sang “bapa” dalam kiasan Paulus ini? (Allah Bapa.)
- Siapa yang memutuskan kapan seorang anak menjadi dewasa? (Paulus mengatakan bahwa putusan tersebut berada di tangan sang BapDi Amerika Serikat hal ini biasanya diatur oleh hukum. Namun, orang tua punya kendali atas kapan anak-anak mereka diberi hak atas kekayaan orang tua.
- Baca Galatia 4:2. Ini mengingatkan pelajaran pekan lalu bahwa para orang tua kaya memiliki hamba-hamba yang akan mengurus anak-anak kaya yang masih belia dan memastikan bahwa anak-anak ini bersekolah. Kita telah pelajari bahwa hukum diibaratkan oleh si mentor ini. Kira-kira siapa sang “bapa” dalam kiasan Paulus ini? (Allah Bapa.)
- Baca Galatia 4:3. Saat manusia berada di bawah hukum mereka ibarat anak sekolah. Saat bersekolah kita berada “di bawah azas dunia.” Azas apakah itu? (Yang paling mendasar adalah bahwa jika berbuat dosa kita akan mati.)
- Coba kita menyimpang sedikit. Baca Galatia 4:Mengapa dikatakan bahwa anak di bawah umur dari pemilik harta pusaka itu sama seperti seorang hamba? (Secara hukum, anak itu tidak punya hak atas harta pusaka tersebut. Namun bagi si anak akan tiba waktunya kondisi tersebut berubah. Bagi si hamba tidak demikian.)
- Putra-Putri Dewasa Allah
- Baca Galatia 4:4-5. Coba perhatikan baik-baik kedua ayat ini. Waktu apa yang dibicarakan di sini? Dan, siapa yang menentukan kapan waktu itu tiba? (Waktu yang dimaksud adalah manakala Yesus datang ke dunia sebagai manusiAllah Bapa rupanya yang menentukan saat tersebut.)
- Apa yang dikatakan oleh ayat-ayat ini mengenai kodrat Yesus? (Pertama, bahwa Ia adalah Putra Allah. Kedua, bahwa Ia dilahirkan oleh seorang manusia perempuan. Maka Yesus itu Allah sekaligus manusia.)
- Apa maksud kedatangan Yesus? (Untuk menebus kita dari tuntutan hukum. Untuk memberi kita hak sebagai anak dewasa, bukannya hak sebagai anak di bawah umur.)
- Sekarang coba kembali dan baca ayat yang tadi kita lompati. Baca Galatia 3:26-29. Ayat-ayat yang kita sementara baca ini menyebut “anak-anak” namun dalam bahasa aslinya dituliskan sebagai “anak-anak laki-laki". Apakah Paulus merujuk baik laki-laki maupun perempuan? (Ya!)
- Lalu, mengapa Paulus menyebut mereka “anak-anak laki-laki"? (Hak hukum anak laki-laki lebih unggul dibanding anak perempuan. Yang ia maksudkan adalah apabila kita menjadi anak Allah, tidak ada lagi perbedaan gender, ras, status ekonomi atau politik. Semua menerima hak legal yang maksimal.)
- Bagaimana kita menjadi anak dewasa Allah? Bagaimana kita berpindah dari bawah hukum dan mendapatkan hak hukum yang maksimal? (Oleh iman dan baptisan.)
- Perhatikan susunan kata “oleh iman dalam Yesus Kristus” dan “dibaptis di dalam Kristus". Iman seperti apa yang diceritakan di sini? Apa sebenarnya yang kita yakini? (Karena Paulus menggambarkan Yesus sebagai Allah dan sebagai manusia, hal tersebut sepertinya menjadi bagian penting dari iman.)
- Mengapa Paulus menggunakan frasa “dibaptis dalam Kristus"? Bagaimana caranya kita masuk ke dalam Yesus saat kita dibaptiskan? (Baca Roma 6:3-5. Ayat ini menolong kita untuk memahami hakekat baptisan. Sebagaimana halnya Yesus dikuburkan dalam kematian, demikian juga ketika kita dibenamkan ke dalam air saat dibaptis, kita turut serta dalam kematian Yesus. Ketika kita bangkit dari air baptisan, kita turut serta dalam kebangkitan Yesus, jadi kita turut serta dalam kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Dengan cara ini kita memandang ke depan pada kebangkitan menuju hidup baka!)
- Mari kita baca ulang Galatia 3:29. Apa antara kaitan kematian dan kebangkitan (lewat baptisan) dengan hukum dan kasih karunia? (Bahwa kita sekarang menjadi bagian dari perjanjian dengan Abraham – percaya dan hidup. Kita juga telah membayar penalti dosa lewat Yesus. Setidaknya dengan cara ini kita tidak lagi berada di bawah pengawasan hukum.)
- Baca Galatia 4:4-5. Coba perhatikan baik-baik kedua ayat ini. Waktu apa yang dibicarakan di sini? Dan, siapa yang menentukan kapan waktu itu tiba? (Waktu yang dimaksud adalah manakala Yesus datang ke dunia sebagai manusiAllah Bapa rupanya yang menentukan saat tersebut.)
- Roh dari Putra-Putri Allah
- Mari lanjut dengan membaca Galatia 4:6-7. Hal baru apa yang kita dapatkan saat menjadi anak-anak Allah? (Roh Allah ada dalam hati kita.)
- Apa satu peran yang Roh Allah lakukan dalam hati kita? (Menyerukan “Abba”, yang berarti “Bapa".)
- Apa artinya? (Artinya bahwa sikap kita terhadap Allah telah diubahkan. Kita merasakan kasih terhadap Dia, dan menjalin hubungan dengan-Nya sebagaimana lazimnya hubungan kita dengan ayah yang mengasihi. Bayangkan seorang anak yang memiliki seorang ayah yang hebat. Hubungan seperti itu yang kita jalani dengan Allah.)
- Apa satu peran yang Roh Allah lakukan dalam hati kita? (Menyerukan “Abba”, yang berarti “Bapa".)
- Baca Galatia 4:8-9. Apakah sikap yang kita tunjukkan karena Allah adalah Bapa yang pengasih dan pemurah membawa perubahan dalam hidup kita? (Semua anak pernah mengalami masa-masa pemberontakan, namun anak normal yang berurusan dengan orang tua yang normal ingin menyenangkan orangtua mereka.)
- Paulus menulis tentang allah-allah yang bukan Allah dan “roh-roh dunia yang lemah dan miskin”. Apakah allah-allah yang bukan Allah itu? (Terutama adalah allah-allah hasil karya tangan kita sendiri. Mengapa ada orang waras yang menyembah benda yang ia buat sendiri? Kaum legalis juga melakukan hal yang sama - menyembah hal yang mereka ciptakan! Oleh usaha sendiri mereka menuruti hukum (setidaknya begitulah sangkaan mereka), dan karenanya keselamatan mereka itu “buatan sendiri".)
- Baca Galatia 4:10-1Paulus mencontohkan apa yang ia maksudkan. Apa kaitan antara menyembah usaha sendiri dengan “hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun”? (Dalam Hukum upacara ada berbagai peraturan mengenai hari-hari raya dan hari penyucian. Jika orang banyak berniat untuk bersandar pada pemeliharaan hari-hari tersebut untuk mendapatkan keselamatan, maka mereka sementara kembali kepada konsep kebenaran oleh usaha.)
- Bagaimana dengan hari Sabat? Sabat adalah “hari khusus!” (Artinya bahwa datang ke gereja tiap hari Sabat tidak menyelamatkan kita - seperti juga hal lain yang kita lakukan demi memperoleh keselamatan. Jika saudara memanggil “Abba” kepada Bapa Surgawi saudara, tidakkah saudara ingin ber-Sabat dengan-Nya? Saya senang sekali berkomunikasi video lewat Skype dengan putra saya yang tidak lagi tinggal bersama kami. Saya tidak melihat hal itu sebagai beban, atau tugas. Saya tidak berharap bahwa dengan melakukannya saya akan mendapat pujian.)
- Tadi kita telah mempelajari bagaimana kita dikuburkan dengan Yesus dan bangkit bersama-NyMasih ingat di mana Yesus menghabiskan hari Sabat setelah kematian-Nya? (Di dalam kubur.)
- Mengapa?
- Andai saudara adalah Allah Bapa, dan Putra saudara baru saja mengalami pukulan dan siksaan yang mengerikan, apakah saudara akan cepat-cepat berlari mendapatkan-Nya dan menenangkan-Nya?
- Jika saudara adalah Allah Bapa, dan Putra saudara baru saja memenangkan Pertandingan Akbar alam semesta, apakah saudara langsung bergegas menemui-Nya dan memberi ucapan selamat kepada-Nya? (“Ya!” Orang tua yang menyayangi anaknya tidak akan berlambat-lambat. Satu-satunya alasan yang menurut saya paling mungkin mengenai penundaan yang tidak masuk akal ini adalah karena Yesus berhenti pada hari Sabat sesudah penciptaan (Kejadian 2:2 ), maka Yesus beristirahat pada hari Sabat setelah Ia menang atas dosSaya mau merayakan kedua pencapaian yang luar biasa ini (Penciptaan/Penebusan) pada hari Sabat – dan keinginan saya ini tidak ada kaitannya dengan usaha tangan saya!)
- Mari lanjut dengan membaca Galatia 4:6-7. Hal baru apa yang kita dapatkan saat menjadi anak-anak Allah? (Roh Allah ada dalam hati kita.)
- Motivasi Paulus
- Baca Galatia 4:12-16. Saat mendengar seseorang menyatakan sikap, kita perlu bertanya "Apa motif orang tersebut?" Jika saudara menjadi anggota jemaat Galatia, kira-kira motif negatif apa yang melekat pada surat Paulus? (Membanggakan opini. Marah karena mereka berubah pikiran – dan tidak lagi sepakat dengannyMembanggakan “kepemilikan” – mereka ini ditobatkan oleh Paulus.)
- Perhatikan bahwa Paulus menjawab tuduhan-tuduhan ini. Apakah harga dirinya terluka? (Katanya, “kamu tidak berbuat salah terhadap saya.")
- Bagaimana dengan rasa bangga terhadap "kepemilikan”? (Kata Paulus “Saya mulanya mampir ke kota kalian karena saya sedang sakit." Paulus tidak bermaksud membuat kelompok istimewa ini bertobat (lain dengan penduduk kota berikutnya). Sepertinya Paulus ingin mengatakan, “Kota sebelah dapat saya tobatkan, saya tidak perlu menuntut “kepemilikan” terhadap kalian.)
- Menurut Paulus apa yang menjadi alasan utamanya sehingga ia ingin mereka kembali kepada kasih karunia? (SukacitIa ingin mereka memperoleh kembali sukacita mereka.)
- Baca Galatia 4:17-20. Apa yang memotivasi kaum legalis dalam upayanya menarik orang Galatia untuk memiliki pandangan seperti mereka? (Kekuasaan. Mereka menginginkan pengikut yang lebih banyak.)
- Sobat, Paulus mengatakan bahwa mempercayai kebenaran oleh iman itu ibarat sukacita seorang anak yang pada hari ulang tahunnya menjadi seorang dewasIa kini tidak lagi diawasi! Ia punya kebebasan, punya status, punya hak hukum. Kebebasan sebagai putra-putri Allah membawa kita lebih dekat kepada-NyMembuat kita rindu untuk menyenangkan-NyMaukah hari ini engkau masuk ke dalam sukacita kasih karunia?
- Baca Galatia 4:12-16. Saat mendengar seseorang menyatakan sikap, kita perlu bertanya "Apa motif orang tersebut?" Jika saudara menjadi anggota jemaat Galatia, kira-kira motif negatif apa yang melekat pada surat Paulus? (Membanggakan opini. Marah karena mereka berubah pikiran – dan tidak lagi sepakat dengannyMembanggakan “kepemilikan” – mereka ini ditobatkan oleh Paulus.)
- Pekan depan: Nasihat Penggembalaan Paulus
