Bersiap untuk Perubahan

Indonesian
1 Korintus 10, Mazmur 71 & 127
Year: 
2019
Quarter: 
2
Lesson Number: 
3

Pendahuluan: Salah satu kisah keluarga yang sering istri saya ceritakan adalah bagaimana ibunya menekankan bahwa ia ingin agar ada”kesamaan.” Ia tidak menginginkan adanya perubahan dalam hidupnya. Enam minggu kemudian, ia menikah dan pindah ke rumah baru. Dan begitu sajalah “kesamaan” yang tersisa. Pada umumnya, orang takut akan perubahan. Seperti ibu mertua saya, mereka mengatakan mereka ingin”kesamaan.” Mari kita menggali ke dalam pelajaran Alkitab kita dan melihat pelajaran apa yang dapat merubah hidup kita dan bagaimana sebaiknya kita mengevaluasinya!

 

  1.        Pelajaran-pelajaran tentang Sejarah

 

    1.        Baca 1 Korintus 10:1. Apa yang Allah ingin agar kita ketahui? (Sejarah! Kita perlu mengetahui apa yang terjadi kepada “nenek moyang” kita.)

 

      1.        Adakah nenekmoyang kita mengalami perubahan besar dalam hidup mereka?

 

    1.        Baca 1 Korintus 10:2-4. Apakah keterangan Alkitab mengenai persamaan sejarah dari orang-orang ini? (Bahwa mereka memiliki latar belakang kerohanian yang indah. Kristus memberikan mereka air dan makanan dan Musa memberi mereka pemimpin spiritual.)

 

    1.       Baca 1 Korintus 10:5. Apakah pelajaran rohani disini? Pelajaran apakah yang kita peroleh? (Bahwa memiliki latar belakang kerohanian dan pelatihan tidak berarti bahwa hidup kita menyenangkan Allah. Kita mungkin tidak melakukan perubahan yang baik.)

 

    1.       Baca 1 Korintus 10:6. Apa yang dikatakan Allah dalam mengacu kepada hal-hal ini sebagai “contoh?” (Hal penting yang disampaikan adalah bahwa sejarah memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana kita harus menjalankan hidup kita. Ada beberapa hal yang membuat saya gusar dan khawatir tentang masa depan. Salah satunya adalah masa depan agama dan kebebasan berekonomi. Ini membuat negara kita hebat. Oleh karena negara-negara di dunia beralih kepada kebebasan beragama dan berekonomi, maka jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan secara global telah berkurang drastis. Namun, generasi muda di negara saya mempertanyakan baik kebebasan beragama maupun berekonomi.)

 

  1.       Sejarah dan Perubahan Hidup

 

    1.        Baca kembali 1 Korintus 10:6. Bagaimana kita dapat menggunakan sejarah dalam menentukan perubahan? (Sejarah seharusnya menuntun pikiran kita. Perubahan apa yang seharusnya dibuat, dan apa yang seharusnya tetap? Sejarah Alkitabiah seharusnya “mencegah kita untuk menetapkan hati kita atas berbuat kejahatan.”)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    1.        Baca 1 Korintus 10:7 dan Keluaran 32:5-6. Dosa dalam sejarah yang bagaimana yang perlu kita hindari? (“Anak lembu” adalah berhala yang dibuat oleh Harun. Umat Allah baru saja menyaksikan kuasaNya yang hebat, dan kini mereka hendak menyembah sesuatu yang dibuat oleh Harun. Bagaimana bodohnya kelakukan mereka?)

 

      1.        Tidak satupun dari teman Kristen saya yang mendirikan berhala di halaman belakang mereka dan kemudian menyembah (ataupun percaya) padanya. Apakah ini pelajaran sejarah yang tidak berlaku lagi?

 

      1.        Apakah kita menyembah barang yang kita buat atau beli? (Terkadang saya mendengar hal-hal bodoh. Jika seorang memiliki mobil atau rumah bagus maka mereka yang iri menyebutnya sebagai “berhala.” Masalahnya adalah ibadah: apakah kita menaruh percaya kepada barang itu. Jika barang itu merefleksikan kekayaan, maka adalah mudah untuk percaya terhadap kekayaan.)

 

    1.       Baca 1 Korintus 10:8 dan Bilangan 25:1-3. Dosa mana yang pertama terjadi: penyembahan berhala atau perzinahan? (Berbuat zinah dengan perempuan Moab. Inilah penyebab adanya penyembahan berhala.)

 

      1.        Baca Bilangan 25:5. Dosa apa yang kelihatannya paling mengganggu(bothers) Allah (Perbaktian yang palsu.)

 

      1.        Saya sudah sering mengatakan (bahkan dua minggu lalu saya mengkhotbahkannya) bahwa “semua dosa adalah dosa.” Argumentasinya adalah bahwa kita semestinya tidak memilih-milih dosa tertentu dan mengutuknya lebih kuat. Apakah saya salah? Atau, apakah sejarah mengajarkan kita pelajaran lain? (Saya mungkin salah, dan sejarah mungkin mengajarkan kita pelajaran yang berbeda. Pelajaran dari sejarah adalah bahwa perzinahan akan membawa kita pada dosa lainnya. Pada kasus ini, Allah menempatkan perbaktian terhadap Baal sebagai dosa yang lebih serius.)

 

    1.       Baca 1 Korintus 10:9-10 dan Bilangan 21:4-6. Dua dosa apa yang diungkapkan oleh ayat-ayat ini? (Menggerutu dan mencobai Allah.)

 

      1.        Menggerutu sangat terlihat jelas. Namun apakah maksudnya “mencobai” Allah? (Ini adalah mencoba kesabaran Allah. Melakukan hal-hal yang membuat Allah tidak bahagia.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      1.        Jika saudara telah bersama kami ketika mempelajari buku Ayub, maka saudara dapat mengenang bagaimana Ayub sering menggerutu mengenai Allah. Bahkan Ayub mengatakan akan menuntut Allah (Ayub 9:32-33), agar ia dapat menggunakan seseorang untuk menengahi perselisihan merekaMengapa keluhan yang demikian dapat diterima, sementara keluhan atas makanan membuat saudara dibunuh (1 Korintus 10:10)? (Perbedaan yang nyata adalah keluhan di padang belantara itu adalah perihal Allah yang dinyatakan tidak memelihara umatnya dengan baik. Mereka terus mengatakan bahwa masa mereka menjadi hamba lebih baik dari saat ini. Hal itu menghina Allah. Sementara, dalam kasus Ayub, ia berargumentasi bahwa Allah tidak memperlakukannya dengan adil. Bahwa Ayub tidak pernah melakukan hal yang membuatnya layak menerima hukuman yang mengakibatkan penderitaannya. Allah mengetahui bahwa ini merupakan keluhan yang dapat diterima. Ayub selayaknya tidak menderita dalam peraturan yang normal. Pelajarna sejarah perihal perubahan ialah bahwa Allah menerima keluahan kita yang berterima padaNya. Namun, janganlah kita menggerutu atas berkat yang telah diberiNya.)

 

    1.        Baca 1 Korintus 10:11-12. Amaran apakah yang kita dapat dari sejarah? (Bahwa orang lain dapat jatuh dan demikian juga dengan kita. Janganlah kita angkuh dan terlampau percaya diri.)

 

    1.        Baca 1 Korintus 10:13. Apakah janji Allah perihal pencobaan?

 

      1.        Apakah hubungannya hal itu dengan perubahan? (Kita dapat, melalui kuasa Roh Kudus, bertahan melawan pencobaan. Perubahan hidup kita dapat (dan seharusnya) menjadi positif dan bukannya negatif.)

 

  1.      Perubahan sebagai Orang Tua

 

    1.        Baca Mazmur 127:3-5. Apakah asumsi perihal anak-anak dan perlindungan? (Jika saudara memilihi banyak anak laki-laki, maka saudara akan memiliki sebuah pasukan yang dapat melindungi saudara.)

 

      1.        Apakah hal ini masih merupakan isu yang relevan? (Melibatkan diri dalam pertempuran fisik atas nama orang tua seharusnya jarang kasusnya, namun setelah orang tua bertambah tua anak-anak dapat membantu melindungi mereka dalam berbagai cara.)

 

    1.        Baca kembali Mazmur 127:3. Anak-anak merupakan hadiah dan “pusaka dari Allah.” Menurut saya pusaka disini artinya “warisan” dalam konteks ayat ini. Jika saudara adalah orangtua, dalam hal apakah saudara melihat ayat ini benar? (Saya dan istri menemukan bahwa anak-anak mengajarkan kita banyak hal perihal Allah dan kebaikannya bagi kami. Saat anak-anak memberontak atau tidak menurut, kita melihat bagaimana kita juga terkadang memberontak dan tidak taat pada Allah. Ini adalah pelajaran yang berharga dalam mengartikan kasih karunia Allah.)

 

 

 

 

 

      1.        Bagaimana anak-anak merubah hidup saudara? (Mereka merubahnya selamanya. Mereka membuat hidup kita lebih kaya dan lebih rumit.)

 

      1.        Baca 1 Samuel 3:12-13. Apakah kewajiban kita perihal anak-anak kita? (Untuk mengendalikan mereka. Jelas sekali, pada suatu masa anak-anak akan membuat pilihan mereka sendiri. Namun, dalam kasus imam Eli, iya memiliki otoritas melebihi figur ayar terhadap kedua anak laki-lakinya.)

 

  1.      Perubahan Masa

 

    1.        Pada bagian sebelumnya kita berdiskusi bagaimana banyak anak dapat melindungi saudara pada masa tua saudara. Baca Mazmur 71:9. Masalah apakah yang timbul ketika kita tua? (Hilangnya kekuatan kita.)

 

    1.        Baca Mazmur 71:18. Bagaimanakah seharusnya sikap kita ketika kita menua dan kehilangan kekuatan? (Kita perlu mengajarkan generasi berikut bahwa kuasa terletak pada tangan Allah kita. Kita dapat menjadi saksi dan contoh dari hal itu.)

 

    1.       Baca Mazmur 71:23-24. Bagaimanakah seharusnya sikap kita setelah kita bertambah tua? (Untuk meneriakkan pujian kepada Allah. Gantinya menggerutu, kita seharusnya “berbicara mengenai sikap adil Allah sepanjang hari.”)

 

      1.        Mari kita berfokus pada ayat 24. Ekpektasi apakah yang seharusnya kita dapati dari masa depan orang yang mencari cara untuk membahayakan kita? (“Dipermalukan dan kekalutan.”)

 

        1.        Saya mengenal teologi yang mengatakan kita harus berdoa untuk kekalutan dan kekalahan dari musuh kita. Baca Ayub 31:29-30 dan Matius 5:43-44. Bagaimana rekonsiliasi saudara perihal ayat-ayat ini?

 

        1.        Inilah pelajaran yang saya raih dari sejarah: Suatu ketika saya memutuskan untuk berdoa agar musuh saya kalut pada suatu kasus kebebasan beragama yang sedang disidangkan di pengadilan. Ketika pengacara lawan memasuki ruang sidang, ia terbentur besi pendeteksi dan terjatuh. Ia dengan sempoyongan memasuki ruan pengadilan! Ia terluka, sehingga hakim tidak membiarkan iya berargumentasi atas kasusnya. Namun, pada akhirnya hakim menemukan (dan membuat) argumentasi yang lebih baik terhadap kami dan menutup kasus itu!

 

    1.       Sahabatku, ketika membicarakan perubahan kita sebaiknya melihat kepada pelajaran mengenai tuntunan Allah di masa lalu. Kita perlu mencari kehendakNya dan secara bersukahati menaruh percaya padaNya. Maukah saudara menyetujui untuk membuat hal ini sebagai tujuan saudara?

 

  1.        Minggu depan: Ketika Seorang Diri