Penginjilan dan Kesaksian secara Berkelompok

(Pengkhotbah 4, Filipi 1, Kisah 15)
Indonesian
Year: 
2012
Quarter: 
2
Lesson Number: 
7

Pendahuluan: Adam Smith lahir kira-kira 200 tahun yang lalu. Ia mengawali karirnya sebagai pendeta, tapi ujung-ujungnya ia menulis salah satu buku terpenting tentang ilmu ekonomi modern: the Wealth of Nations (Kekayaan Bangsa-bangsa). Secara blak-blakan tesisnya menyebutkan bahwa keinginan kita yang penuh cinta diri untuk memperoleh lebih banyak uang meningkatkan standar ekonomi orang-orang yang ada di sekitar kita. Bukankah iri hati, tamak dan mengingini itu dosa? Di satu sisi saya tidak sangsi dengan apa yang Adam Smith lontarkan. Namun, saya kerap bertanya-tanya dalam hati bagaimana teorinya ini bisa dipertemukan dengan iman. Yang memperumit masalah adalah bahwa Allah, yang mengatakan jangan mengini, terus-terusan menyinggung soal upah. Ia menghubungkan hal itu dengan uang kita (Maleakhi 3:10) dan Ia menghubungkan hal itu dengan perbuatan kita (Matius 25:34-36). Perlukah iri hati, tamak dan mengingini menjadi bagian dari suksesnya penginjilan secara berkelompok? Apa peran rasa bangga akan keyakinan agama kita dalam penginjilan? Mari selami Alkitab kita dan belajar lebih banyak lagi!

  1. Motivasi
    1. Baca Pengkhotbah 4:4-6. Apa kata Salomo mengenai pandangan Adam Smith tentang ilmu ekonomi? (Ia setuju dengan pendapat Adam! “… segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain.”)
    2. Baca Filipi 1:15-18. Bagaimana pandangan Paulus tentang orang-orang yang mengabarkan injil dengan didorong oleh iri hati dan rasa bersaing? (Menurutnya tidak masalah!)
    3. Baca Matius 6:2, Matius 6:5 dan Matius 6:16. Apa upah bagi orang-orang yang mengabarkan injil dengan didorong oleh iri hati dan rasa bersaing? (Mereka memperoleh apa yang mereka cari – puja-puji bagi diri sendiri. Itu sudah.)
    4. Baca Wahyu 22:12-14 Upah apa yang kita cari? (Hidup kekal. Masuk melalui pintu-pintu gerbang kota suci.)
    5. Jika kita semua mencari upah, apa pun namanya itu, jadi soalkah perbedaan dalam motif kita?
    6. Mari kita tengok ulang Filipi 1:15-16. Motif yang bagaimana yang seharusnya kita miliki? (Kasih dan maksud baik.)
      1. Bagaimana jika motif kita campur-aduk? (Kita tetap mengabarkan injil (hal yang baik), namun kita perlu mewaspadai motif kita karena upahnya jauh berbeda.)
  2. Aturan Pelibatan (Rule of Engagement): Teologi Dua dan Tiga orang
    1. Baca Pengkhotbah 4:9-12. Saya biasa mengucapkan ayat ini pada acara pernikahan dan saya pikir penerapannya memang utamanya untuk perkawinan. Namun, apakah hal ini berlaku juga bagi penginjilan? (Baca Lukas 10:1-3. Jelas di sini Yesus menyarankan agar bekerja secara berpasangan.)
    2. Baca Matius 18:19-20. Berarti ada “teologi dua orang” dan karenanya jika hanya “satu orang” akan timbul masalah? (Dengan dua orang jelas ada untungnya, baik dalam bersaksi maupun dalam doa.)
    3. Mengapa Allah itu “tiga” jika dua saja sudah bagus? (Baca ulang Matius 18:20. Berapa banyak yang saudara dapati di sini? Paling tidak dua orang dan Allah. Jadi tiga jumlahnya. Dua orang berkumpul bersama memerlukan Roh Kudus untuk melengkapi usaha mereka.)
    4. Baca Roma 12:4-5. Angka apa yang terlintas saat saudara memikirkan rancangan tubuh saudara? (Dua. Dua mata, telinga, lengan, tangan, kaki, tungkai. Bahkan hidung kita yang satu memiliki dua lubang hidung.)
      1. Kira-kira mengapa Allah merancang kita begitu rupa?
      2. Kira-kira mengapa Roh Kudus menginspirasi Paulus untuk menggambarkan jemaat sebagai satu tubuh? (Dalam tubuh unsur "dua" itu unggul.)
      3. Adakah orang Kristen yang saudara kenal yang lebih suka bekerja sendirian? (Dalam litigasi kebebasan beragama yang saya tangani, orang-orang yang tidak bergabung dalam sebuah gereja (tubuh) umumnya merupakan sempalan atau yang tidak sungguh-sungguh dalam keyakinan agamanya.)
    5. Coba kita renungkan aturan pelibatan "berdua-dua” dan masalahnya dengan iri hati dan persaingan sebagai motivasi. Apa dampak dari aturan berdua-dua tersebut terhadap masalah motivasi? (Aturan tersebut membantu menyelesaikan masalah. Jika dua orang bekerja bersama, maka sulit untuk memuliakan diri sendiri. Pasangan saudara bisa melihat dan memperbaiki motif cinta diri yang mungkin saudara tidak lihat.)
  3. . Penginjilan dan Gereja
    1. Baca Kisah 15:1. Apakah ini penginjilan? Ataukah rasa bangga atas pendapat sendiri? (Jelas bagi banyak orang Kristen ini merupakan penginjilan. Gereja kami punya ajaran yang belum saudara terima, jadi saya akan bersaksi pada saudara dan menginjili saudara soal ini karena saya lebih tahu.)
      1. Ada berapa banyak gereja protestan yang diberi nama sesuai dengan doktrin yang menurut anggapan mereka perlu diketahui oleh orang Kristen lainnya atau dinamai sesuai dengan pemuka agama yang menurut mereka lebih hebat dari yang lain?
    2. Baca Kisah 15:2. Apa pendapat Paulus dan Barnabas mengenai kesaksian dari “saudara-saudara” tersebut? (Mereka tidak setuju untuk mengatakan bahwa itulah kesaksian yang benar. Ini menjadi “pertikaian seru.”)
      1. Bagaimana umat percaya memutuskan bahwa hal ini harus dicarikan jalan keluar? (Mereka perlu berkonsultasi dengan “rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.”)
        1. Apa yang diajarkan di sini mengenai penginjilan setelah aturan dua atau tiga orang diterapkan? (Ditunjukkan bahwa kita perlu berkonsultasi dengan kumpulan orang percaya yang lebih besar.)
    3. Baca Kisah 15:4-5. Apakah ada kesepakatan antara Paulus dan sebagian pemimpin di kantor pusat? (Mereka disambut, namun timbul perdebatan di kantor pusat.)
    4. Baca Kisah 15:6-11. Bagaimana saudara menggambarkan proses penyelesaian kontroversi ini? (Orang-orang mengemukakan pendapat mereka. Petrus mengutarakan perbuatan Allah untuk menggaris bawahi apa yang dia kemukakan.)
      1. Baca Kisah 1:8-9. Instruksi terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya adalah menginjili dunia. Bagaimana mungkin ada kesangsian terhadap upaya menginjili orang bukan Yahudi?
      2. Apakah Petrus tidak menyentuh permasalahan sebenarnya? Bukankah masalahnya adalah soal sunat, bukan soal menginjili orang bukan Yahudi? (Yang Petrus katakan itu lebih dari membenarkan upaya untuk menjangkau orang bukan Yahudi. Ia mengatakan bahwa Allah menerima orang bukan Yahudi dengan memberi mereka Roh Kudus dan membenarkan mereka oleh iman – sekalipun mereka tidak disunat.)
        1. Apakah ada pelajaran bagi kita di sini: Bahwa sahabat Kristen kita mungkin saja tidak menerima pandangan khas kita tentang apa yang Alkitab tuntut. Namun ujian yang sesungguhnya adalah apakah Allah memberi Roh Kudus kepada mereka dan membenarkan mereka oleh kasih karunia?
    5. Baca Kisah 15:12. Bagaimana orang banyak dengan beragam sudut pandang ini saling memperlakukan pihak lainnya dalam debat ini? (Dengan rasa hormat.)
    6. Baca Kisah 15:13-21. Apa yang melandasi “keputusan” Yakobus? (Pimpinan Allah dalam soal ini, baik dari Alkitab maupun dari kehidupan orang banyak.)
      1. Alasan apa yang Yakobus sampaikan terhadap aturan-aturan (lihat ayat 20) yang akan tetap diberlakukan? (Allah, yang berbicara melalui Musa, menuntut paling tidak hal-hal ini?)
        1. Musa dan Allah sebenarnya menuntut lebih dari orang bukan Yahudi. Baca Keluaran 12:48 dan Yehezkiel 44:9. Apa yang dikemukakan oleh Yakobus? (Perkataan Yakobus akan melukai hati orang Kristen yang berlatarbelakang Yahudi. Dugaan saya adalah bahwa ia berupaya untuk meminimalisir rasa terluka tersebut.)
      2. Kesan apa yang timbul di sini mengenai otoritas gereja? Apakah saudara menyimpulkan bahwa Yakobus sementara mengambil keputusan mengenai bagaimana gereja harus menangani pekabaran injil?
    7. Baca 1 Korintus 8:7-13. Dua pertanyaan. Andai yang Yakobus kemukakan itu sebuah peraturan bagi Jemaat, apakah Paulus baru saja menggugurkan sebagian dari aturan tersebut? Ataukan Paulus dan Yakobus sama sama sepakat, dan satu-satunya alasan mengapa Yakobus melarang hal-hal yang dituliskan dalam Kisah 15:20 adalah untuk tidak melukai rasa keimanan dari orang Yahudi “lemah” yang telah bertobat? (Tampaknya jawaban paling logis adalah Yakobus dan Paulus sepakat bahwa sesungguhnya yang jadi masalah adalah soal melukai perasaan. Namun, logika tersebut segera menguap saat saudara memperhatikan bahwa Kisah 15:20 mengikutsertakan "percabulan." Saya tidak bisa membayangkan bahwa perzinahan itu oke-oke saja bagi orang Kristen yang “kuat.”
    8. Baca Kisah 15:22-29. Apa yang dikatakan oleh surat ini mengenai otoritas Yakobus? (Pihak yang berwewenang dalam surat tersebut adalah “rasul-rasul dan penatua-penatua.” Ini menunjukkan bahwa kelompok itulah yang berwewenang yang berada di balik keputusan yang dibuat. Surat itu sendiri menunjukkan bahwa apa yang tertulis di situ dimaksudkan untuk dijadikan sebagai peraturan.)
    9. Kita (atau paling tidak saya) belum sepenuhnya mengerti semua isi Kisah 15. Apa yang kita dapatkan dari pelajaran kita? (Bahwa Allah menyarankan agar penginjilan secara berkelompok itu diupayakan secara bersama-sama. Kelompoknya mungkin cuma beranggotakan dua orang. Namun kita dikuatkan jika bekerja bersama-sama. Bekerja bersama-sama merupakan penangkal timbulnya kesombongan.)
    10. Sobat, maukah hari ini engkau menetapkan untuk mencari seorang mitra dan sebuah kelompok untuk bersama-sama menjalankan penginjilan? Dalam hidup keseharianmu engkau masih perlu mendorong orang-orang sekitar untuk lebih mengenal injil. Namun, jika engkau terlibat dalam program jangkauan keluar yang formil, paling tidak engkau perlu satu orang mitra.
  4. Pekan depan: Diperlengkapi untuk Penginjilan dan Bersaksi.