Aku Menjadikan Segala Sesuatu Baru

Indonesian
Wahyu 19-21
Year: 
2019
Quarter: 
1
Lesson Number: 
13

Pendahuluan: Seri pelajaran kita akan melewatkan Wahyu 18. Pasal tersebut menerangkan pada kita bagi mereka yang meraih keuntungan melalui kejahatan akan mengalami banyak hal yang menyedihkan. Dengan kejatuhan Babilon, mereka telah kehilangan pekerjaan mereka. Minggu ini kita memasuki suasana yang mengalami perubahan. Kita memulai Wahyu 19 dengan melihat kebahagiaan dari mereka yang menang melalui kuasa Yesus. Mereka telah menderita banyak oleh karena kejahatan, namun kejahatan secara cepat telah menghilang. Mari kita melompat ke dalam pelajaran kita untuk mempeljari lebih banyak perihal kebahagiaan kita di masa mendatang!

 

 

  1.        Sukacita!

 

    1.       Baca Wahyu 19:1-3. Kita menemukan musik yang lebih membosankan, bukan? (Tidak. Kita menemukan lebih banyak pujian yang “men[deru]”.)

 

      1.       Mengapa umat Allah memuji Dia (Allah telah melaksanakan penghakiman. Allah telah menyaksikan kuasaNya. Allah telah menebus darah pengikutNya. Ia telah “menghembuskan” musuhNya (dan musuh kita.)

 

    1.       Baca Wahyu 19:6-8. Lebih banyak lagi pujian yang bergemuruh dan menderu. Apakah alasannya pujian ini? (Ini adalah saat pernikahan kita dengan Yesus! Inilah saatnya dimana kita akan selamanya bersama dengan Dia.)

 

      1.       Syarat apa yang melayakkan kita untuk masuk? (Jubah kebenaran Yesus. “kain linen halus, yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih, diberikan kepadanya.”)

 

        1.       Bagaimana untuk mendapatkan jubah ini? (Jubah itu “diberikan” kepada kita.)

 

      1.       Berhenti sejenak! Dalam terjemahan the NIV terdapat kutipan dalam kurung “lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang kudus”.” Pernyataan ini terdengar bahwa jubah kebenaran itu melambangkan perbuatan kita! Itu melambangkan pekerjaan kita. Bagaimana jubah itu dapat diberikan kepada kita di satu sisi, sementar di sisi lainnya harus kita raih melalui “perbuatan baik?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      1.       Tinjau kembali Matius 22:1-14 dan Matius 22:8-11. (Yesus mengatakan perumpamaan ini untuk membuat ilustrasi masa mendatang yang akan kita pelajari dalam buku Wahyu. Perumpamaan ini membuat apa yang sedang terjadi menjadi lebih jelas. Para hamba itu mengumpulkan semua orang (baik dan jahat) yang tidak memiliki pengetahuan bahwa mereka akan menghadiri sebuah pernikahan. Mereka mengenakan gaun untuk acara lain. Apa yang telah mereka lakukan adalah menerima undangan menghadiri pernikahan dan menerima jubah yang diberikan raja pada saat pernikahan itu. “Tindakan” yang mereka lakukan adalah menerima undangan dan menerima jubah.)

 

      1.       Baca Kejadian 7:6-7. Bagaimana putera-putera Nuh dan istri mereka dapat menghindari penghakiman besar Allah? (Mereka masuk melalui pintu bahtera. Mereka menerima undangan itu.)

 

      1.       Bagi saudara-saudara yang menggumam “tidaklah mudah” mengenai apa yang terjadi saat air bah. Pertimbangkanlah apa yang telah kita pelajari dalam Wahyu 19. Apakah ini keputusan yang diambil dalam waktu semalam? (Sang pencuri di kayu salib (Lukas 23:40-43) menunjukkan bahwa keputusan yang diambil dapat seketika saja. Namun, yang lebih memungkinkan adalah lamanya waktu yang saudara gunakan dalam menerima atau menolak perintah Allah. Menurut saya kebanyakan orang hidup dalam pola yang menerima Yesus atau menolak Dia. Pola tersebut terefleksikan dalam cara kita hidup. Keselamatan tidaklah dapat diperoleh, namun kita secara umum menghidupkan hidup yang konsisten dalam menerima Yesus.)

 

  1.       Pejuang Yesus

 

    1.       Baca Wahyu 19:11-15.  Apakah saudara menyukai gambaran ini? Saya menyukainya! Apa yang dikatakan mengenai Pejuang kita Yesus? (Ia mengeksekusikan penghakiman bagi orang jahat. Kali ini ketika Ia datang, hal-hal yang terjadi lebih berbeda.)

 

      1.       Apa yang sebelumnya kita diskusikan mengenai “mulut pedang” Yesus?” (Sama seperti ketika Yesus mencetuskan dunia kedalam eksistannya, demikian pula ia berbicara terhadap musuhNya sehingga dikalahkan.)

 

        1.       Apa yang membuat otoritas Yesus dalam peristiwa ini? (Bahwa jubahnya telah dicelupkan dalam darah. Ia hidup dan mati dalam kehidupan yang sempurna. Ia memberikan setiap umat manusia kesempatan untuk mengambil keuntungan dari pengorbananNya yang hebat, sebagai hadiah yang sangat hebat. Manusia yang menolak hadiah itu menerima resikonya sendiri.)

 

    1.       Baca Wahyu 19:17-18.  Ketika saya masih dalam masa pertumbuhan kami memiliki sebuah ungkapan: “Itu hanyalah untuk burung-burung.” Artinya bahwa hal itu tidaklah baik. Apakah kita melihat sebuah “jamuan makan malam oleh Allah” yang “diperuntukan bagi burung?”

 

 

 

 

 

      1.       Menurut saudara mengapa Yohanes melibatkan informasi mengenai burung-burung? (Perhatikan bahwa “semua orang” yang memiliki sukses besar dalam hidupnya, dan mereka yang tidak sukses, direndahkan sebagai makanan burung jika mereka menolak keselamatan.)

 

    1.       Baca Wahyu 19:19-21. Jelaskan kesudahan yang berbeda dari binatang dan nabi palsu terhadap mereka yang menolak Yesus? (Ayat ini menyarankan bahwa setidaknya mereka yang jahat ditelan, dan bukan dibuang ke dalam neraka.)

 

    1.       Baca Wahyu 20:1-3. Apa yang terjadi dengan iblis? (Ia dirantai selama seribu tahun dalam “neraka”)

 

  1.      Masa Seribu tahun

 

    1.       Baca Wahyu 20:4 and Matius 19:28. Siapakah kelompok yang menerima hidup pada awal masa seribu tahun,yang memiliki “otoritas untuk menghakimi,” dan yang memerintah bersama Yesus selama seribu tahun? (Ayat empat hanya membatasi atas mereka yang “dipenggal kepalanya.”)

 

    1.       Baca Wahyu 20:5-6. Apakah yang ditambahkan dalam ayat ini mengenai kelompok pertama yang menjadi bagian dari “kebangkitan pertama?” (Hal ini memperluas gambar untuk menerangkan pada kita bahwa “kematian kedua” tidak memiliki kuasa atas mereka. Hal ini terdengar seperti orang yang menerima kebangkitan pertama adalah semua orang yang diselamatkan.)

 

      1.       Oleh sebab saya berpikir bahwa referensi dari “kematian kedua” merupakan kunci atas hal ini, baca Wahyu 20:14 dan Wahyu 21:8. Apa yang diterangkan ayat-ayat ini mengenai kematian kedua? (Ayat-ayat ini menerangkan bahwa mereka yang jahat akan menerima “kematian kedua” yang permanen. Mereka yang benar, di sisi lain, hanya akan mati sekali (jika mereka mati). Oleh karena itu, kelompok yang ada di surga selama masa seribu tahun adalah semua orang yang benar.)

 

    1.       Kita telah membaca bahwa mereka yang benar “diberi otoritas untuk menghakimi” (Wahyu 20:4). Mari kita melompat beberapa ayat untuk membaca lebih jauh perihal pernyataan ini. Baca Wahyu 20:11-15. Bagaimanakah penentuan nasib orang jahat? (Orang jahat dihakimi “sesuai dengan perbuatannya.” Ingat, bahwa orang benar ada di surga, dan secara tidak langsung terlibat dalam mengkonfirmasikan penghakiman ini.)

 

      1.       Bagaimana penentuan nasib orang benar? (Jika nama saudara tercantum dalam buku kehidupan, maka saudara diselamatkan. Ini menyarankan bahwa orang jahat dihakimi menurut perbuatannya, namun orang benar dihakimi hanya jika nama mereka tercantum dalam buku kehidupan. Inilah rahmat Allah. Inilah jubah kebenaran Yesus yang diberikan pada kita.)

 

 

 

 

 

 

 

  1.      Perang Penghabisan

 

    1.       Baca Wahyu 20:7-8. Siapakah orang-orang ini? Mengapa kita melihat perang kedua? (Perang dalam Wahyu 19 adalah perang dengan orang jahat yang hidup ketika Yesus datang untuk menjemput orang benar bersama Dia ke surga. Orang benar kemudian diangkat dan hidup bersama Yesus selama seribu tahun. Wahyu 20:5 menerangkan pada kita bahwa kebangkitan kedua terjadi setelah masa seribu tahun usai. Orang jahat akan hidup kembali, dan Setan akan mengerahkan mereka dalam perang penghabisan melawan Yesus dan orang-orang suci.)

 

    1.       Baca Wahyu 20:9-10. Apakah hasil dari peperangan ini (Kemenangan kita!)

 

      1.       Apakah yang dikatakan ayat ini mengenai api neraka yang terbakar selama-lamanya? (Ini menerangkan bahwa semua orang jahat yang dibangkitkan dalam kebangkitan kedua itu “ditelan” oleh api. Ini menentang Setan yang “disiksa siang dan malam selama-lamanya.”)

 

  1.       Dunia Yang dibuat Baru

 

    1.       Baca Wahyu 21:1-4. Dimanakah orang benar hidup? (Di dunia yang dibuat baru!)

 

      1.       Apa yang turun dari surga kepada dunia yang dibuat baru? (Yerusalem yang Baru!)

 

      1.       Mengapa Allah membuat markas besarnya disini? (Ini adalah peristiwa dikalahkannya kejahatan dan kemenangan atas kebenaran. Allah membuat peringatan tentang kita dan tentang dunia kita.)

 

    1.       Baca Wahyu 21:10-13 dan Wahyu 21:15-17. Kita telah mempelajari ini pada pelajaran yang lalu. Bagaimanakah penampilan Yerusalem yang Baru dalam hal-hal yang telah kita ketahui? (Bahwa tempat ini merupakan kubus yang besar! Tidak terlihat menyerupai gambar-gambar Yerusalem baru yang pernah saya lukiskan. Tempat itu terlihat serupa kota megah. Namun, kelihatannya Yerusalem Baru menyeruapai bangunan kondominium raksasa. Hal ini memberi arti baru kepada Yohanes 14:2: “dalam rumah BapakKu terdapat banyak tempat tinggal.”)

 

      1.       Seberapa besarkah bangunan kondominium ini? (Seluas 1,200 mil ( (2,200 kilometer) tinggi, lebar dan dalam. Dimanapun saudara tinggal, cobalah untuk mengaplikasikannya pada kota yang saudara ketahui.Di Amerika Serikat, kondominium ini akan merentang dari Washington, D.C. hingga hampir sampai di Denver, Colorado! Ini akan sampai ke apa yang merupakan luar angkasa saat ini! Menurut kalkulasi saya bahwa kondo saudara (apartemen, kamar) akan sangat besar. Bukanlah dalam meter persegi, namun lebih kepada hektar.)

 

 

 

 

 

 

    1.       Saudaraku, saya ingin ada di sana! Saya ingin alamat saya adalah “Yerusalem Baru, Dunia Baru.” Jika saudara rindu memiliki alamat yang demikian, saat ini bertobatlah dari dosa-dosa saudara, terimalah Yesus sebagai Allah dan Juruselamat, dan terimalah jubah kebenaranNya. Ketika saudara ada di sana, carilah saya!

 

  1.      Minggu depan kita akan memulai seri pelajaran baru berjudul Musim dalam Keluarga.”