Mengutuk Hari

Indonesian
(Ayub 3 & 7)
Year: 
2016
Quarter: 
4
Lesson Number: 
5

Pendahuluan: Ingat kembali bagaimana dalam Ayub 2:9 istri Ayub menyarankannya untuk “mengutuk Allah dan mati?”. Ayub menolak. Gantinya, kita akan mempelajari minggu ini bagaimana Ayub mengutuk kehidupannya. Pernahkah saudara mengenal seseorang yang telah mengakhiri kehidupannya? Ketika saya muda, ibu saya mengkhawatirkan jika saya akan mengambil hidup saya karena saya putus dengan pacar saya. Saya tidak ingat dengan jelas kala itu, namun saya ragu jika Ibu memiliki alasan untuk khawatir. Jika saya mendengar berita tentang seorang yang membunuh istrinya, saya berpikir, “Mengapa tidak bercerai?” Sikap sayapun sama dengan bunuh diri, mengapa tidak mengubah saja hidup saya? Jika saudara sama seperti saya yang tidak mengerti pemikiran demikian, Ayub memperkenalkan kita pada pemikiran orang-orang yang putus asa dan dalam situasi depresi yang sangat berat. Mari kita menggali dalam pelajaran Alkitab dan belajar lebih banyak lagi!

 

I.             Mengutuk Hari itu

 

A.   Baca Ayub 3:1-3. Apakah harapan Yakub? (Bahwa ia tidak pernah dilahirkan.)

 

1.   Mengapa ia sampai pada kesimpulan tersebut? Ia telah memiliki kehidupan yang menakjubkan (atau terlihat demikian) sebelum Setan menyerangnya. Mengapa tidak berharap bahwa ia dapat mati saja saat ini daripada mengharapkan tidak pernah dilahirkan? (Sesuatu pemikiran yang tidak masuk akal, namun perhatikanlah beberapa saran ini. Terkadang ketika kita mengalami kesusahan besar, kita bertindak secara tidak logis. Kedua, Ayub sedang bingung dan marah akan “keadilan” yang terjadi dalam hidupnya. Jika ia tidak mengerti kehidupan, mungkin akan lebih baik untuk tidka menjadi bagian daripanya.)

 

B.   Baca Ayub 3:4-6. Apa lagi keinginan Ayub berhubungan dengan hari kelahirannya? (Agar Allah melupakannya. Ia menginginkan semua catatan kelahirannya dihapuskan.)

 

1.   Bandingkan keinginan Ayub dengan kenyataan situasi yang dihadapinya. Apakah ini yang Allah kehendaki? (Sebaliknya. Ayub merupakan prajurit Allah, teguran pentingNya terhadap Setan. Di mata Allah, Ayub adalah pahlawan.)

 

2.   Pelajaran apakah yang kita peroleh mengenai mengertikan pemikiran Allah tentang kita?

 

C.   Baca Ayub 3:7-9. Apa lagi keinginan Ayub sehubungan dengan hari lahirnya? (Bahwa tidak ada seorangpun yang akan gembira atasnya. Sebaliknya, agar hari lahirnya dikutuk orang.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II.           Istirahat dalam Kematian

 

A.   Baca Ayub 3:10-13. Ayub menginginkan agar ia tidak terlahirkan, atau agar ia mati ketika dilahirkan, dan bahwa Allah akan melupakan hari lahirnya dan manusia mengutuk gantinya memberkati hari itu. Apa yang dikatakan ayat-ayat berikut mengenai alasan atas keinginan Ayub yang tidak masuk akal itu? (Ayub mengatakan jika ia tidak pernah terlahirkan, atau jika ia mati ketika dilahirkan, ia akan menikmati damainya kematian.)

 

1.   Jika inilah tujuan Ayub, mengapa tidak bunuh diri saja? Mengapa tidak berkata kepada istrinya yang setia, “engkau menghendaki kematianku, bagaimana jika engkau bunuh saya?” (Diantara seluruh pemikiran Ayub yang putus asa, bunuh diri tidak ada dalam konteksnya. Hal ini dikarenakan kemungkinan bahwa Ayub percaya bahwa bunuh diri bukanlah jalan yang disetujui Allah.)

 

B.   Baca Ayub 3:13-15. Bagaiamanakah situasi Ayub dapat disamakan dengan seorang penguasa yang mendirikan istana, yang memiliki harta kekayaan emas dan perak? (Ayub telah hancur. Jika saudara mati tidak menjadi masalah jika istana saudara dihancurkan atau emas saudara hilang. Ayub ingin mati agar kehancuran hidupnya tidak menjadi masalah lagi.)

 

C.   Baca Ayub 3:16-19. Apakah pandangan Ayub mengenai sifat kematian? (Ia memandangnya sebagai pelepasan dari kesusahan. Ia tidak melihat orang jahat dibakar ataupun orang baik menikmati kegembiraan di surga.)

 

1.   Menurut saudara saudara apakah ayat ini dimaksudkan untuk mengajarkan kita mengenai kehidupan setelah kematian? (Perjanjian Lama lebih tersembunyi perihal kematian dibandingkan dengan Perjanjian Baru. Raja Salomo mengatakan hal yang maksudnya sama dalam Pengkhotbah 9:9-10, bahwa kuburan adalah akhir kehidupan dan tidak ada masa depan. Sementara Perjanjian Baru dipenuhi dengan referensi mengenai kehidupan setelah kematian, terutama bagi mereka yang percaya akan Allah.)

2.   Dengan pengertian Ayub mengenai kematian, dapatkah saudara bayangkan kedukaan yang dideritanya atas kehilangan anak-anaknya?

 

III.         Kodrat Kehidupan

 

A.   Baca Ayub 7:1-3. Dari apa yang saudara ketahui mengenai Ayub, apakah hal ini masuk akal? (Tidak! Ia adalah “orang terhebat (dari) Timur,” Ayub 1:3. Saya tidak meragukan bahwa ia bekerja keras, pada suatu saat, namun untuk membandingkannya sebagai “budak” atau “orang upahan” adalah tidak masuk akal.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.   Tunggu dulu! Apakah Ayub sedang membicarakan masa lalunya? (Ketika Ayub berkata, “demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia,” kelihatannya ia hanya membicarakan mengenai hidupnya setelah serangan Setan.)

 

B.   Baca Ayub 7:4-5. Ayub tidak dapat tidur. Apakah ini yang dikatakan “upah atas kerja keras” (Ayub 7:1)? (Menurut saya pengertian yang benar adalah bahwa ia sedang membicarakan mengenai hidupnya saat ini dan bukan masa lalu. Ayub menekankan bagaimana para pekerja menantikan hari senja dan hari menerima upah. Ia menantikan malam kesengsaraannya yang akan berlalu oleh karena ketidaknyamanannya dan situasinya yang tidak dapat tidur.)

 

C.   Baca Ayub 7:6-8. Apakah Ayub mengatakan bahwa malamnya sangat panjang, dan siang begitu cepat berlalu? (Menurut saya tidak demikian. Ia mengatakan bahwa hidup senangnya begitu saja berlalu. Sekarang hidup baik telah hilang dan ia tanpa pengharapan.)

 

1.   Pikirkanlah pernyataan Ayub mengenai kehidupan. Apakah benar demikian dengan kehidupan saudara? Pada titik tertentu saudara akan mengatakan, “hari-hari baik telah berakhir, dan sekarang saya menantikan kematian?” (Pada banyak orang hal ini adalah benar. Ini adalah sebuah argumen yang kuat untuk menaruh perhatian akan diet dan kebugaran saudara, agar saudara dapat membaharui keadaan dimana ketidak saudara tua saudara tetap dapat menikmati kehidupan.)

 

IV.         Keluhan

 

A.   Baca Ayub 7:11. Apakah sikap Ayub telah berubah? (Ia. Ia mengatakan bahwa hidup baiknya telah berlalu, ia mengharapkan kematian, dan bahwa ia mengeluh akan kepahitannya.)

 

1.   Baca Ayub 2:4-5. Apakah Setan telah menang? (Tidak! Ayub bukan mengutuk Allah, ia datang kepada Allah dengan keluhannya.)

 

B.   Baca Ayub 7:12-16. Apakah keluhan Ayub? (Allah membuatnya dalam situasi yang sangat buruk sehingga ia memilih lebih baik mati. Ia ingin agar Allah “mengacuhkannya.”)

 

1.   Menurut saudara apakah ini yang dihendaki oleh Ayub, ataukah ini hanyalah pembicaraannya pada masa depresi? (Sampai pada situasi dimana Ayub berpikir Allahlah yang membawa kesusahan padanya, sehingga ia mau diacuhkan saja.)

 

C.   Baca Ayub 7:17-18. Menurut Ayub apakah yang sedang Allah lakukan padanya? (Memeriksanya, mengujinya.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.   Sebelumnya saya telah menuliskan bahwa Ayub tidak akan pernah, dalam seribu tahun, mengerti alasan dari penderitaannya. Namun, disini kita melihat bahwa saya berasumsi salah. Ayub telah merasakan bahwa ia sedang diuji.)

 

a.    Apakah Allah sedang mengujinya? (Ini adalah ide Setan.)

 

D.   Baca Ayub 7:20. Ayub beranjak pada alasan berikutnya dari penderitaannya, apakah itu? (Bahwa karena ia berdosa, maka Allah menjadikannya “target” atasnya.)

 

1.   Apakah Ayub tetap menaruh percaya pada Allah? (Ayub berpikir bahwa Allah sedang menguji dia atau sedang membuatnya jadi sasaran oleh sebab dosanya. Ayub ingin Allah “membiarkannya” (Ayub 7:19). Namun, apapun alasan atas penderitaannya, Ayub tetap berpaling pada Allah untuk solusi atas permasalahan yang dihadapinya.)

 

E.   Baca Ayub 7:21. Apa pendapat Ayub tentang rahmat? (Ia mempercayainya. Ia meminta Allah untuk mengampuni dosa-dosanya karena ia segera akan mati.)

 

1.   Baca kembali Ayub 7:19 dan bandingkanlah sampai pada akhir Ayub 7:21. Apakah kedua pernyataan ini memiliki konflik? (Ia, Yakub mengatakan pada satu sisi Allah secara konstan memperhatikannya. Sementara disisi lain ia mengatakan bahwa Allah akan mencarinya.)

 

a.    Pelajaran apa yang kita peroleh? (Jika kita memiliki teman atau keluarga yang, seperti Ayub, mengalami penderitaan, kita harus mengerti bahwa terkadang mereka tidak berpikir secara jernih. Kita melihat sebelumnya pada pelajaran ini dan sekarang kita melihatnya lagi.)

 

b.    Apakah tanggungjawab kita dalam situasi seperti ini? (Baca Ayub 1:11-13. Menurut saya pendekatan ini memiliki banyak manfaat. Sewaktu kita meneruskan pelajaran kita dari kitab ini kita akan melihat bagaimana sahabat-sahabat Ayub mencoba untuk membetulkan pandangannya. Namun, hal itu kurang membantu.)

 

F.    Sahabaku, Ayub tetap merupakan inspirasi bagi kita ketika dalam masa penderitaan. Ayub mengomel, pikirannya terkadang bingung, dan dia mengalami depresi. Namun dalam seluruh keadaannya ia berpaling kepada Allah untuk jawaban. Maukah saudara bertekad untuk selalu memandang pada Allah untuk jawaban dalam seluruh masalah yang saudara hadapi dalam kehidupan saudara?

 

Minggu Depan: Kutuk tanpa Sebab