Hukuman Pembalasan

Indonesian
(Ayub 8-9, 11-12)
Year: 
2016
Quarter: 
4
Lesson Number: 
7

Pendahuluan: Saya suka logika! Demikian juga Bildad, salah satu sahabat Ayub. Bildad mengerti ilmu agama, ia mengerti logika, dan ia berkesimpulan anak-anak Ayub pantas untuk binasa. Anda dapat menyebutnya “Hukuman Pembalasan”. Kadang-kadang logika mengecewakan kita. Kadang-kadang pandangan kita tentang bagaimana Tuhan bekerja salah, sehingga kesimpulan logika kita juga salah. Mari selami pelajaran Alkitab kita dan temukan tentang kasih, logika dan hukuman pembalasan!

 


1)    Angin yang Keras

 

a)    Baca Ayub 8:1-3. Bildad, salah satu sahabat Ayub, memasuki arena. Apakah tujuan Bildad? (Bukan untuk menghibur Ayub. Gantinya, ia mau membela Tuhan.)

 

i)     Tengok ke belakang dan lihat apa pendapat Bildad tentang “angin yang keras.” Baca Ayub 7:19-20. Apa yang Ayub katakan? (Kalau ia tidak seharusnya menjadi “sasaran” hukuman Tuhan. Kalaupun ia telah berdosa, itu tidak membahayakan Tuhan.)

 

ii)    Mengapa Bildad tidak suka akan hal itu? (Itu membuat Tuhan kelihatan tidak adil. Bildad pikir kalau Ayub tahu apa yang telah ia lakukan, ia hanya menolak untuk mengakuinya.)

 

iii)   Mengapa Bildad begitu yakin kalau Ayub sudah berdosa? (Karena ia memiliki pandangan dari Ulangan 28 yang telah kita bicarakan di pelajaran sebelumnya – kalau menurut Anda makmur, kalau tidak menurut Anda susah.)

 

b)    Baca Ayub 8:4. Seberapa keras hantaman ini bagi Ayub? (Baca Ayub 1:4-5 dan Ayub 1:18-19. Ini adalah hal terburuk yang Bildad dapat katakan karena itu menyatakan pemikiran pribadi Ayub.  Ayub mungkin sadar akan keadaan dirinya dan dosa, tetapi ia tidak yakin tentang anak-anaknya – apalagi sehabis pesta.)

 

i)     Apa yang salah dengan pernyataan Bildad tentang anak-anak Ayub? (Bildad mengambil kesimpulan berdasarkan pengertiannya akan ilmu agama. Ia tidak membuat pernyataan berdasarkan pengetahuan nyata akan dosa. Kalau ilmu agama Bildad salah (secara umum tidak), atau itu tidak berlaku dalam semua situasi (seperti kasus ini), maka Bildad telah menambahkan penderitaan Ayub.)

 

c)    Baca Ayub 8:5-7. Menurut Anda apakah Bildad percaya ini adalah kata-kata yang mendorong?

 

i)     Bagaimana reaksi Anda dalam posisi Ayub?

 

d)    Baca Ayub 8:8-10. Bagaimana Bildad percaya kita harus mengerti tindakan Tuhan sekarang ini? (Dengan melihat pada sejarah.)

 

i)     Apakah Anda setuju? (Saya setuju.)

 

ii)    Apakah ini sebabnya mengapa Tuhan memasukkan buku Ayub dalam Alkitab? (Ya!)

 

e)    Baca Ayub 8:20-22. Apakah Tuhan sesederhana dan dapat diduga seperti pernyataan Bildad?

 

f)    Baca Ayub 9:1-4. Bagaimana tanggapan Ayub terhadap pandangan Bildad tentang Tuhan dalam sejarah? (Ia mengakui umumnya orang baik makmur dan orang jahat menderita, tetapi Ayub melihat Tuhan sebagai kompleks. “Allah itu bijak dan kuat.” Dengan meramalkan apa yang Tuhan akan lakukan dalam segala situasi, Bildad membuat Tuhan sama seperti dirinya. Suatu hal yang salah.)

 

2)    II.  Jawaban Zofar’s

 

a)    Sekarang kita dengar Zofar, seorang “sahabat” yang lain. Baca Ayub 11:4-6. Apakah Zofar benar karena selalu ada dua sisi dari satu peristiwa?

 

i)     Menurut Zofar “sisi” manakah yang perlu dijelaskan? (Kebohongan Ayub tentang “kesuciannya” perlu disingkapkan.  Ayub begitu berdosa sehingga “Tuhan melupakan sebagian dari dosanya.”)

 

b)    Kembali kebelakang dan temukan mengapa Zofar merasa seperti ini. Baca Ayub 11:1-3. Apa tujuan Zofar? (Ia percaya ia harus menegor Ayub.)

 

i)     Mengapa? (Keduanya Bildad dan Zofar merasa wajib untuk mempertahankan karakter Tuhan. Mereka pikir kalau Ayub dengan salah menuduh Tuhan melanggar hukum-hukumNya.) 

 

ii)    Apakah benar ada “dua sisi” dari situasi ini? (Zofar katakan ada dua sisi, tetapi ia tidak sungguh-sungguh percaya sisi Ayub benar.)

 

c)    Baca Ayub 11:7-9. Apakah pandangan Zofar tentang kecerdasan dan pengetahuan Tuhan? (Tidak terbatas.)

 

d)    Baca Ayub 11:11-12. Apakah pandangan Zofar tentang Ayub? (Ia menyarankan kalau dia adalah “bodoh.” Dengan jelas, kita tidak memiliki “dua sisi” dalam pemikiran Zofar.)

 

i)     Cara salah apa yang Zofar ajarkan pada kita dalam menghadapi perdebatan akan kehendak Tuhan? (Berpikiran kalau pihak lain bodoh, dan mengatakan hal yang sama.)

 

3)    III.Tanggapan Ayub

 

a)    Baca Ayub 12:1-3. Bagaimana Ayub menanggapi tuduhan kalau ia bodoh? (Ayub katakan ia sama cerdasnya dengan Zofar. Ditambahkan, ia juga faham akan hukum alam semesta yang dinyatakan oleh Zofar dan Bildad.)

 

b)    Baca Ayub 12:4-5. Ayub berkata kalau ia “benar dan saleh.” Mengapa ia katakan kalau Zofar dan Bildad tidak dapat melihat ini? (“Orang yang hidup aman menghina oang yang celaka.”)

 

i)     Pertimbangkan apakah yang Ayub katakan benar. Apakah orang yang tidak mengalami masalah yang sama dengan Anda berpikir masalah Anda adalah karena kesalahan Anda?

 

(1)  Apakah secara umum benar kalau masalah kita adalah karena kesalahan kita?

 

ii)    C.  Baca Ayub 12:6. Apakah “perusak” orang jahat? (Sudah tentu.)

 

iii)   Apa yang Ayub katakan? Hukum tidak selalu diaplikasikan sama?

 

(1)  Kalau Ayub benar-benar mengatakan demikian, ia menyangkal keadilan. Keadilan adalah sama bagi semua. Apakah Anda ada penjelasan berbeda untuk hidup kaum perusak yang aman?

 

4)    IV.Hukuman

 

a)    Baca Bilangan 16:1-3. Apakah Anda setuju kalau sebagian pemimpin menempatkan diri mereka diatas komunitas agama?

 

b)    Baca Bilangan 16:4-7. Musa adalah pemimpin yang ditantang oleh Korah dan orang-orang Lewi. Apa reaksi Musa terhadap pemberontakan ini? (Dengan rendah hati ia berpaling pada Tuhan. Ia katakan “biar Tuhan memilih.”)

 

c)    Baca Bilangan 16:28-33. Dapatkan Zofar dan Bildad meramalkan ini?

 

i)     Dapatkan Anda ramalkan akhir ini bagi Korah dan kawan-kawannya?

 

ii)    Sebelumnya kita sudah bicarakan hukum Tuhan yang “otomatis” bagi alam semesta, tetapi disini kita melihat Tuhan terlibat secara aktif menghukum pemberontakan. Menurut Anda seberapa banyakkah hal tersebut berlaku sekarang?

 

5)    V.  Apa yang Harus Kita Simpulkan?

 

a)    Simak bagaimana mengaplikasikan semua yang sudah kita pelajari. Jelasnya, kita akan berbeda pendapat tentang apa kehendak Tuhan. Saya dapat memikirkan satu perdebatan besar di gereja saya sendiri saat ini. Korah pikir Musa salah. Bildad dan Zofar pikir Ayub salah. Apakah pertanyaan pertama yang harus kita tanyakan dalam situasi seperti ini? (Apakah kita memiliki pengertian yang lebih baik tentang hukum Tuhan dan kehendak Tuhan? Apakah kita lebih cerdas atau lebih beriman dari mereka yang bertentangan dengan kita?)

 

i)     Apa yang kita pelajari dari sikap Musa? (Musa tidak katakan, “saya lebih cerdas atau saya pemimpin.” Gantinya, ia dengan rendah hati berpaling pada Tuhan dan berkata, “Biar Tuhan memutuskan.”)

 

(1)  Apakah itu masih berlaku sekarang?

 

ii)    Pertanyaan lain apa yang harus ditanyakan ketika kita terlibat dalam perdebatan? (Apakah kita benar-benar yakin kalau ini adalah kehendak Tuhan pada saat spesifik ini? Kita mungkin faham akan hukum Tuhan secara umum, tetapi ada kemungkinan itu tidak berlaku saat ini?)

 

(1)  Bagaimana kita tahu kapan “kekecualian perusak” (Ayub 12:6) berlaku? (Saya pikir perusak tidaklah mendapat pengecualian dari hukum Tuhan, saya pikir mereka menunjukkan pada kita kalau Tuhan bertindak dalam waktuNya.)

 

b)    Lihat kembali Ayub 8:4. Menurut Anda hukum apa yang harus diaplikasikan disini? (Baca 1 Korintus 16:14. Bildad tidak menunjukkan kasih terhadap Ayub karena tidak ada yang Ayub dapat lakukan untuk mengganti kematian anak-anaknya.)

 

c)    Sahabat, ketika Anda terlibat perdebatan dalam hal rencana Tuhan atau tindakan-tindakanNya atas alam semesta, maukah Anda pertama-tama berpaling pada Tuhan dalam doa? Maukah Anda bertanya pada diri kalau Anda lebih cerdas, kalau Anda yakin tentang hukum pada saat ini, dan kalau Anda menunjukkan kasih? Mengapa tidak, seperti Musa, biarkan Tuhan menyatakan DiriNya?

 

6)    VI.Minggu Depan: Darah yang Tidak Berdosa.